Roma Siap Lepas Givairo Read, Beralih ke Molina atau Fresneda
Baca dalam 60 detik
- Roma menetapkan batas akhir penawaran untuk bek kanan Feyenoord, Givairo Read, sebesar โฌ28 juta, menolak memenuhi permintaan โฌ30 juta.
- Jika negosiasi gagal, Roma siap mengalihkan fokus ke Nahuel Molina (Atletico Madrid) dan Ivan Fresneda (Sporting CP) sebagai alternatif.
- Keputusan ini membuka peluang bagi Nottingham Forest untuk kembali dalam perburuan pemain muda Belanda tersebut.

AS Roma akhirnya memasang pagar betis dalam negosiasi transfer Givairo Read. Klub ibu kota Italia itu menolak menaikkan tawaran melebihi โฌ28 juta, sebuah sinyal bahwa mereka tidak akan terperangkap dalam perang harga yang diminta Feyenoord.
Seperti dilaporkan Sky Sport Italia dan Sportitalia, batas maksimal yang disiapkan Roma adalah โฌ25 juta tunai ditambah โฌ3 juta bonus dan persentase penjualan di masa depan. Angka ini menjadi patokan terakhir setelah tawaran awal โฌ25 juta ditolak mentah-mentah oleh kubu De Kuip. Bahkan, Voetbal International mengungkapkan bahwa proposal senilai โฌ28 juta plus 10 persen dari keuntungan penjualan berikutnya pun sudah kandas.
Feyenoord bertahan pada harga โฌ30 juta untuk pemain yang baru genap berusia 21 tahun dalam beberapa pekan ke depan. Sikap kaku ini membuat Roma enggan berkompromi lebih jauh. Alih-alih memaksakan diri, manajemen Giallorossi justru menyiapkan peta jalan alternatif dengan dua nama besar: Nahuel Molina dari Atletico Madrid dan Ivan Fresneda dari Sporting CP.
Langkah Roma ini bukan tanpa risiko. Dengan mundurnya mereka dari perlombaan, Nottingham Forest yang sebelumnya sempat mengintai peluang bisa kembali menyalakan mesin negosiasi. Situasi ini menguntungkan Feyenoord yang bisa memainkan dua kuda dalam satu arena balap, sekaligus memberi tekanan pada klub Inggris untuk segera bergerak.
Bagi pembaca di Indonesia, saga transfer ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa mulai lebih disiplin dalam pengeluaran. Dengan aturan Financial Fair Play yang semakin ketat, keputusan Roma untuk tidak memaksakan diri bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, yang kerap tergoda membayar lebih demi pemain muda berbakat. Ini juga menegaskan bahwa manajemen risiko dalam bursa transfer kini menjadi kunci, bukan sekadar ambisi membangun skuad.
Nahuel Molina, yang pernah bersinar di Udinese sebelum pindah ke Atletico, menawarkan pengalaman di level tertinggi. Sementara Ivan Fresneda, yang masih muda, bisa menjadi investasi jangka panjang. Keduanya punya profil berbeda, memberi Roma fleksibilitas taktis. Namun, mengejar pemain dari klub sebesar Atletico atau Sporting tentu membutuhkan negosiasi yang tidak kalah rumit.
Keputusan final Roma akan menjadi penentu arah bursa transfer Januari ini. Apakah mereka akan tetap bertahan pada prinsip atau melunak di menit akhir? Satu hal yang pasti, Feyenoord kini memegang kendali, dan Nottingham Forest siap mengambil alih jika Roma benar-benar mundur.



