Franco Baresi: Perpisahan Kapten Legendaris yang Menggetarkan Milan
Baca dalam 60 detik
- Ribuan suporter dan tokoh sepak bola berkumpul di Basilika Sant'Ambrogio, Milan, untuk menghormati Franco Baresi yang wafat di usia 66 tahun.
- Baresi, yang menghabiskan 20 tahun kariernya di AC Milan, meninggalkan warisan enam gelar Serie A dan tiga trofi Eropa, serta nomor punggung 6 yang dipensiunkan klub.
- Kehadiran pemilik RedBird Capital, Gerry Cardinale, diwarnai sorakan tak setuju dari fans yang kecewa dengan manajemen klub, menambah dimensi protes di tengah duka.

MILAN โ Ribuan suporter berseragam merah-hitam khas AC Milan, mantan rekan setim, dan lawan-lama memberikan penghormatan terakhir kepada Franco Baresi, legenda sepak bola Italia yang wafat pekan lalu di usia 66 tahun. Upacara pemakaman berlangsung di Basilika Sant'Ambrogio, Milan, Selasa (4/8), di tengah isak tangis dan yel-yel perpisahan yang menyayat hati.
Spanduk bertuliskan "Ciao capitano" (Selamat jalan, kapten) terpampang di depan gereja, sementara sejumlah fans mengibarkan bendera Milan raksasa dengan nama Baresi dan nomor punggung 6. Kehadiran Paolo Maldini, rekan duet pertahanan Milan dan tim nasional Italia, serta pelatih legendaris Fabio Capello, menambah suasana haru. Mereka datang bukan sekadar melepas kepergian, tetapi merayakan hidup seorang pemain yang menjadi simbol kesetiaan dan kejayaan.
Baresi menghabiskan seluruh 20 tahun kariernya di AC Milan, sebuah dedikasi yang langka di era sepak bola modern. Selama periode itu, ia mempersembahkan enam gelar Serie A dan tiga trofi Eropa, serta memimpin tim sebagai kapten selama 15 musim sebelum gantung sepatu pada 1997. Milan kemudian memensiunkan nomor 6 miliknya, menjadikannya pemain pertama dalam sejarah klub yang menerima kehormatan tersebut.
Di level internasional, Baresi turut mengangkat Piala Dunia 1982 bersama Italia dan menjadi kapten saat Gli Azzurri melaju ke final 1994. Namun, takdir berkata lain: Italia kalah adu penalti dari Brasil, dan Baresi menjadi salah satu eksekutor yang gagal. Yang lebih heroik, ia bermain penuh 120 menit di laga final itu hanya 25 hari setelah menjalani operasi lututโsebuah pengorbanan yang hingga kini dikenang sebagai simbol kegigihan.
Namun, di balik duka, ada nada sumbang. Kehadiran Gerry Cardinale, pendiri RedBird Capital Partners yang kini memiliki AC Milan, disambut sorakan dan siulan dari para suporter. Mereka frustrasi dengan arah manajemen klub yang dinilai kurang ambisius. Momen ini menunjukkan bahwa meski Baresi adalah ikon yang menyatukan, klub yang ia cintai kini tengah menghadapi gejolak di luar lapangan.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Baresi bukan sekadar nostalgia Eropa. Ia adalah representasi dari nilai-nilai yang sering digaungkan di Liga Indonesia: loyalitas, kerja keras, dan pengorbanan untuk tim. Di tengah maraknya pemain yang berpindah-pindah klub demi kontrak lebih besar, dedikasi Baresi menjadi antitesis yang relevan. Banyak suporter Indonesia yang tumbuh besar menonton Serie A di era 1990-an menganggap Baresi sebagai salah satu idola yang membentuk kecintaan mereka pada sepak bola Italia.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan menggantikan Baresi di hati para tifosi, tetapi juga bagaimana AC Milanโdi bawah kepemilikan RedBirdโakan menghormati warisan sang kapten. Apakah klub akan terus berinvestasi untuk kembali ke puncak, atau justru semakin jauh dari kejayaan yang pernah dibangun Baresi? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: nama Franco Baresi akan selalu terukir dalam sejarah sepak bola dunia.



