El Nino 2026 Mengintai: Kasus ISPA dan Karhutla Diprediksi Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada 2026 berpotensi memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
- Kondisi kekeringan berkepanjangan akibat El Nino tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama di wilayah rawan karhutla.
- Pemerintah dan masyarakat perlu menyiapkan langkah mitigasi dini, seperti penguatan sistem kesehatan dan pengendalian karhutla, untuk menghadapi dampak El Nino yang lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Fenomena iklim El Nino yang diproyeksikan melanda pada 2026 kembali menjadi sorotan. Selain memicu kekeringan panjang, fenomena ini juga diyakini akan mendongkrak jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta memperluas area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Ancaman ini bukan sekadar spekulasi. Data historis menunjukkan bahwa setiap siklus El Nino selalu diikuti oleh peningkatan signifikan kasus ISPA, terutama di daerah yang menjadi langganan kabut asap. Pada kejadian El Nino 2015, misalnya, ribuan warga di Sumatera dan Kalimantan terpaksa dirawat karena gangguan pernapasan. Pola yang sama berpotensi terulang, bahkan dengan skala yang lebih luas jika tidak diantisipasi sejak dini.
Para ahli iklim memperkirakan El Nino 2026 akan memiliki intensitas yang bervariasi, namun dampaknya terhadap sektor kesehatan dan lingkungan diperkirakan konsisten. Kekeringan yang berkepanjangan membuat lahan gambut menjadi sangat rentan terbakar. Ketika karhutla terjadi, partikel halus (PM2.5) yang dihasilkan dapat menyebar hingga ratusan kilometer, memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko penyakit pernapasan bagi jutaan orang.
Bagi Indonesia, ancaman ini memiliki dimensi ganda. Di satu sisi, sektor pertanian dan ketahanan pangan akan tertekan oleh gagal panen dan kelangkaan air. Di sisi lain, beban sistem kesehatan publik akan meningkat seiring melonjaknya pasien ISPA, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas. Pemerintah daerah di provinsi rawan seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah perlu menyiapkan langkah mitigasi yang lebih agresif.
Menurut analis lingkungan, kesiapan menghadapi El Nino tidak hanya soal penanganan darurat, tetapi juga investasi jangka panjang pada infrastruktur kesehatan dan pengelolaan lahan. Teknologi pemantauan titik panas (hotspot) dan sistem peringatan dini perlu dioptimalkan. Selain itu, penegakan hukum terhadap pembakar lahan harus diperkuat, mengingat karhutla sering kali dipicu oleh aktivitas manusia yang disengaja.
Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan masker saat kualitas udara memburuk, serta menjaga daya tahan tubuh, menjadi langkah sederhana yang efektif. Namun, tanpa koordinasi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah, upaya ini akan sia-sia.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Indonesia telah cukup belajar dari pengalaman El Nino sebelumnya? Dengan proyeksi yang semakin akurat dan teknologi yang semakin maju, seharusnya mitigasi dapat dilakukan lebih dini. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan kesenjangan antara perencanaan dan eksekusi. Jika tidak segera dibenahi, El Nino 2026 bukan hanya akan menjadi bencana alam, tetapi juga ujian bagi ketahanan kesehatan dan lingkungan nasional.



