Bezos dan DiCaprio Gelontorkan Rp3 Triliun untuk Selamatkan 100 Spesies Langka: Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Dana $200 juta dari Bezos Earth Fund dan Re:wild akan membiayai pemulihan 100 spesies kritis di 30 negara, termasuk lemur dan salamander langka.
- Proyek Phoenix Species ini menekankan pendanaan jangka panjang dan keterlibatan masyarakat adat, berbeda dengan pendekatan konservasi jangka pendek yang biasa.
- Inisiatif ini menjadi sinyal bagi negara megabiodiversitas seperti Indonesia untuk menarik pendanaan serupa, meski tantangan deforestasi dan kebakaran hutan masih besar.

Jeff Bezos dan Leonardo DiCaprio, dua nama besar di dunia filantropi lingkungan, kini bersatu dalam misi ambisius: menyelamatkan 100 spesies yang terancam punah di 30 negara. Melalui Phoenix Species Project, Bezos Earth Fund dan Re:wild menggelontorkan dana awal senilai US$200 juta atau sekitar Rp3 triliun, sebuah langkah yang dinilai para pengamat sebagai ujian nyata komitmen konservasi global di tengah krisis keanekaragaman hayati yang semakin akut.
Proyek ini tidak sekadar menyuntikkan dana, melainkan merombak cara pandang konservasi. Alih-alih sekadar memperlambat kepunahan, Phoenix Species Project menargetkan pemulihan populasi spesies secara nyata. Lauren Sanchez Bezos, wakil ketua Bezos Earth Fund, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah tentang "memulihkan, bukan mengelola penurunan". Pendekatan ini mencakup penangkaran, restorasi habitat, pengendalian penyakit, serta pemberantasan spesies invasif, dengan dukungan ilmiah dari IUCN Species Survival Commission.
Skala masalahnya memang mengerikan. Menurut data IUCN, lebih dari 49.000 spesies—sekitar 28 persen dari total yang dinilai—terancam punah. Angka ini menjadi latar belakang mengapa proyek ini memilih target yang sangat spesifik, seperti lemur sifaka bermahkota emas dari Madagaskar dan salamander hijau Hickory Nut Gorge dari Carolina Utara. Keduanya adalah ikon lokal yang populasinya menyusut drastis akibat hilangnya habitat dan perubahan iklim.
Bagi Indonesia, kabar ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai salah satu negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki banyak spesies endemik yang masuk daftar kritis, seperti orangutan, badak Jawa, dan harimau Sumatera. Namun, pendanaan konservasi di Indonesia sering kali terhambat oleh birokrasi, konflik lahan, dan kurangnya pendekatan berbasis komunitas. Model Phoenix yang mengedepankan keterlibatan masyarakat adat dan pendanaan jangka panjang bisa menjadi cetak biru yang relevan, meski perlu adaptasi dengan kondisi lokal.
Para ahli konservasi menyambut baik inisiatif ini, tetapi mengingatkan bahwa dana sebesar itu harus dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas. Seperti diungkapkan oleh analis lingkungan dari Universitas Indonesia, kunci keberhasilan proyek semacam ini adalah keberlanjutan pendanaan dan penguatan kapasitas lokal. "Tanpa itu, proyek hanya akan menjadi proyek percontohan yang gagal direplikasi," ujarnya.
Ke depan, Phoenix Species Project akan menjadi barometer bagi filantropi konservasi global. Jika berhasil, model ini bisa menarik lebih banyak investor dan pemerintah untuk berpartisipasi. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah komitmen ini akan bertahan melewati perubahan kepemimpinan dan prioritas politik? Atau akankah ia menjadi sekadar catatan kaki dalam sejarah konservasi? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: dunia sedang mengawasi.



