Pasar Saham Global Menguat meski Ketegangan Iran Meningkat: Minyak Naik, Yen Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham Eropa dan futures AS menguat pada Selasa, ditopang optimisme investor terhadap kinerja emiten, meskipun harga minyak rebound menyusul serangan di Selat Hormuz.
- Yen melemah tipis terhadap dolar AS setelah intervensi gabungan Tokyo-Washington pekan lalu, namun masih perkasa dibanding level sebelum intervensi.
- Ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi masih membayangi, dengan data tenaga kerja AS dan kebijakan The Fed menjadi fokus pasar ke depan.

Pasar saham Eropa dan futures Amerika Serikat menguat pada Selasa (4/8), meskipun rebound harga minyak mentah menandakan skeptisisme pelaku pasar terhadap penyelesaian cepat konflik AS-Iran melalui jalur diplomasi. Sentimen positif ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang mengancam kelancaran pasokan energi global.
Indeks STOXX 600 di Eropa naik 0,55 persen, dengan sektor teknologi memimpin penguatan hingga 1,7 persen. Di Amerika, futures Nasdaq melonjak 0,67 persen dan S&P 500 naik 0,22 persen. Pada perdagangan Senin, S&P 500 tercatat melesat 1,48 persen ke level 7.610,04, mendekati rekor tertingginya di 7.620,90, sementara Dow Jones Industrial Average juga mencatat rekor penutupan tertinggi. Indeks saham global MSCI naik tipis 0,05 persen, dan Nikkei Jepang menguat 0,32 persen.
Penguatan pasar terjadi di tengah kekhawatiran yang masih membayangi ekonomi Eropa. Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa kawasan ini menghadapi prospek yang lebih menantang dibandingkan wilayah lain, terutama akibat kekeringan yang menghambat pengiriman melalui Sungai Rhine dan tekanan pada persediaan gas. Sementara itu, harga minyak Brent naik 1,4 persen menjadi 84,95 dolar AS per barel, setelah anjlok 7 persen pada sesi sebelumnya ke level terendah tiga minggu.
Mohit Kumar, ekonom di Jefferies, mengungkapkan bahwa pihaknya menambah eksposur risiko pada sektor-sektor yang diperkirakan tidak terlalu terdampak oleh kenaikan suku bunga. "Teknologi dan finansial menjadi sektor favorit kami untuk menambah risiko dalam portofolio," ujarnya, merujuk pada reli imbal hasil obligasi baru-baru ini. Ia juga menyoroti likuiditas yang melimpah di sistem sebagai faktor pendukung pandangan bullish jangka menengah.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi 19 tahun pekan lalu setelah pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS tidak akan agresif dalam mengendalikan inflasi. Pelaku pasar meyakini Warsh tidak berniat menaikkan suku bunga, dan data ekonomi yang akan dirilis, termasuk data tenaga kerja AS pada Selasa, dapat memberikan ruang baginya untuk bertahan.
Dari sisi mata uang, yen Jepang melemah tipis terhadap dolar AS, namun masih mempertahankan sebagian besar penguatan yang didorong intervensi gabungan Tokyo dan Washington pekan lalu. Dolar AS naik 0,4 persen ke 157,80 yen, tetapi yen masih sekitar 4 persen lebih kuat dibandingkan level sebelum intervensi yang merupakan aksi pertama AS di pasar valuta asing Jepang dalam 15 tahun terakhir. Meski demikian, pelaku pasar mengkhawatirkan kebijakan fiskal ekspansif Jepang dan langkah Bank of Japan (BoJ) yang bertahap dalam menaikkan suku bunga dapat menekan yen ke depan.
Thierry Wizman, ahli strategi valas global di Macquarie Group, menilai bahwa katalis yang dapat memperkuat yen antara lain penurunan harga minyak mentah, pengetatan kebijakan BoJ pada September, serta moderasi rencana fiskal Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menjaga keberlanjutan utang. "Katalis yang dapat memperkuat posisi yen adalah harga minyak yang lebih rendah, pengetatan kebijakan BoJ, dan moderasi rencana fiskal," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika pasar global ini memiliki implikasi yang perlu dicermati. Penguatan pasar saham global dapat memberikan sentimen positif bagi IHSG, namun ketidakpastian harga minyak dan pergerakan yen berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah serta arus modal asing. Selain itu, kebijakan The Fed yang cenderung wait-and-see dapat menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, meskipun risiko perlambatan ekonomi global tetap menjadi perhatian.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data tenaga kerja AS dan sinyal kebijakan The Fed, sementara perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Pertanyaannya, mampukah pasar mempertahankan momentum penguatan di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih membayangi?



