Nippon Steel Naikkan Target Laba 32% Berkat Kinerja US Steel: Sinyal bagi Industri Baja Global
Baca dalam 60 detik
- Produsen baja terbesar Jepang merevisi naik proyeksi laba bersih tahun fiskal 2026 menjadi 290 miliar yen, didorong akuisisi US Steel.
- Kenaikan harga baja canai panas di AS dan depresiasi yen menjadi katalis utama, meski konflik Timur Tengah menggerus pendapatan.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi dinamika pasar baja Asia, termasuk Indonesia yang tengah menghadapi banjir impor.

Nippon Steel, raksasa baja Jepang, mengerek target laba bersih tahun fiskal 2026 sebesar 32 persen menjadi 290 miliar yen (sekitar Rp31 triliun), menyusul kinerja gemilang anak usahanya di Amerika Serikat, US Steel. Keputusan ini tidak hanya mencerminkan optimisme korporasi, tetapi juga menjadi indikator penting bagi industri baja global yang tengah bergulat dengan overkapasitas dan perang dagang.
Pada kuartal April-Juni 2025, Nippon Steel membukukan laba bersih 75,30 miliar yen, berbalik tajam dari rugi 195,83 miliar yen pada periode yang sama tahun lalu. Rugi tahun lalu itu dipicu penjualan saham di joint venture AM/NS Calvert. Kini, akuisisi US Steel yang sempat menuai kontroversi mulai membuahkan hasil. "US Steel menjadi motor penggerak laba grup," ujar CFO Takahiko Iwai dalam konferensi pers, Selasa (4/8).
Iwai menambahkan, perbaikan kualitas dan efisiensi operasional di pabrik-pabrik US Steel pasca-akuisisi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan profitabilitas. Perusahaan bahkan menaikkan proyeksi laba usaha US Steel untuk tahun fiskal hingga Maret 2027 menjadi 180 miliar yen atau lebih, dari perkiraan awal 100 miliar yen. Ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek pasar baja Amerika yang tengah menguat.
Selain itu, Nippon Steel menaikkan asumsi harga baja canai panas (hot-rolled coil) di pasar AS sebesar $100 menjadi $1.000โ$1.100 per short ton, seiring kenaikan harga yang terjadi belakangan. Faktor lain yang mendorong revisi laba adalah keuntungan valuasi persediaan akibat pelemahan yen terhadap dolar AS dan naiknya biaya bahan baku. Namun, tidak semua kabar baik: konflik Timur Tengah telah memangkas laba kuartal pertama sebesar 25 miliar yen dan diperkirakan menggerus 60 miliar yen sepanjang tahun.
Di tengah stagnasi pasar domestik Jepang, Nippon Steel berencana membebankan kenaikan biaya bahan baku dan energi kepada pelanggan. Iwai menyambut positif kebijakan pemerintah Jepang yang akhirnya memberlakukan bea antidumping untuk membendung impor baja murah. "Jika langkah ini efektif, harga domestik berpeluang menguat," katanya. Ini menjadi strategi serupa yang juga digaungkan Indonesia untuk melindungi industri baja nasional.
"US Steel menjadi motor penggerak laba grup," โ Takahiko Iwai, CFO Nippon Steel.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberi pelajaran berharga. Industri baja nasional tengah menghadapi gempuran impor dari China dan negara lain, yang membuat harga jual tertekan. Upaya Nippon Steel dalam mengintegrasikan akuisisi dan meningkatkan efisiensi bisa menjadi model bagi produsen baja Tanah Air. Selain itu, menguatnya harga baja di AS berpotensi mengalihkan pasokan global, yang pada akhirnya bisa menekan harga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah momentum positif ini berkelanjutan. Dengan ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik, Nippon Steel harus menjaga keseimbangan antara ekspansi di AS dan stabilitas domestik. Bagi Indonesia, langkah proteksi pasar seperti antidumping menjadi krusial untuk memastikan industri baja nasional tidak tergerus, sekaligus menarik investasi teknologi tinggi seperti yang dilakukan Nippon Steel.



