Krisis Kepemimpinan FIFA: Tiga Konfederasi Bersatu Dorong Infantino Mundur
Baca dalam 60 detik
- Tiga konfederasi regional dikabarkan siap melumpuhkan FIFA dan membentuk kompetisi tandingan jika Gianni Infantino tak kunjung mundur.
- Rencana penjualan saham Piala Dunia senilai US$4,2 miliar yang gagal telah memicu perpecahan terbesar dalam sejarah administrasi sepak bola.
- Dukungan terhadap Infantino kini hanya tersisa dari sejumlah kecil federasi, sementara lima asosiasi Eropa telah menarik dukungan resmi mereka.

Gelombang perlawanan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA semakin nyata. Laporan terbaru menyebutkan tiga konfederasi regional—UEFA, CONCACAF, dan AFC—bertekad memaksa presiden FIFA itu turun dari jabatannya, bahkan dengan ancaman melumpuhkan organisasi dan membentuk kompetisi tandingan. Langkah ini muncul setelah rencana kontroversial Infantino untuk menjual saham Piala Dunia gagal total dan memicu kemarahan luas di kalangan federasi anggota.
Kekacauan dimulai pekan lalu ketika Infantino memajukan usulan pembentukan badan komersial baru yang ditargetkan mengumpulkan dana hingga US$4,2 miliar. Rencana ini, yang akan membuka investasi swasta ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, diumumkan tanpa konsultasi dengan pemangku kepentingan utama. Setelah tiga hari 'perang saudara' internal, pria berusia 56 tahun itu akhirnya mundur pada Jumat malam dan meminta maaf, tetapi kepercayaan terhadap dirinya telah hancur.
Lima asosiasi nasional Eropa, termasuk Federasi Sepak Bola Inggris (FA), secara resmi mencabut dukungan mereka terhadap pencalonan kembali Infantino pada Kongres FIFA di Maroko, Maret mendatang. Denmark bahkan menyatakan sejak awal tidak akan pernah memilihnya. Sementara itu, hanya federasi Maroko, Qatar, Kuwait, Lebanon, dan Sri Lanka yang secara terbuka menyatakan tetap setia kepada Infantino, yang telah memimpin FIFA sejak 2016 dan berambisi bertahan hingga 2031.
Meskipun jumlah federasi yang mengambil sikap tegas masih kecil—dari total 211 anggota yang akan memberikan suara—tindakan sepihak Infantino jelas telah mengasingkan konfederasi regional. UEFA dan CONCACAF mengeluarkan pernyataan keras pada Sabtu lalu, menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinannya. AFC, yang biasanya loyal, meski tidak sekritis dua konfederasi lain, menuntut reformasi institusional dan menyebut kurangnya konsultasi sebagai hal yang 'sama sekali tidak dapat diterima'.
Menurut laporan The Times of London, UEFA, CONCACAF, dan AFC bertekad melumpuhkan FIFA dan bahkan membentuk kompetisi sendiri jika Infantino menolak lengser. UEFA juga telah mengirimkan 'surat pengawetan dokumen' kepada FIFA terkait semua materi yang berhubungan dengan rencana tersebut, dan sedang mempertimbangkan langkah hukum lebih lanjut. Sementara itu, Infantino kini berupaya menghindari pemanggilan Kongres Luar Biasa, yang bisa dipicu jika 43 atau lebih asosiasi anggota mengajukan permintaan tertulis.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam stabilitas FIFA. Dana pengembangan FIFA selama ini menjadi sumber vital bagi PSSI untuk membiayai program pembinaan dan infrastruktur. Jika krisis ini berlarut, aliran dana tersebut bisa terganggu, dan Indonesia berpotensi kehilangan momentum dalam pengembangan sepak bola nasional. Selain itu, Indonesia juga akan menjadi sorotan dalam pemilihan presiden FIFA mendatang, mengingat posisinya sebagai salah satu anggota yang memiliki hak suara.
Infantino, seperti pendahulunya Joao Havelange dan Sepp Blatter, membangun basis kekuasaan di luar Eropa, di mana asosiasi yang kurang kaya sangat bergantung pada dana FIFA. Rencana kontroversialnya itu bahkan menawarkan dividen US$20 juta hingga US$40 juta bagi setiap federasi yang mendukung skema tersebut. Namun, strategi ini kini berbalik menjadi bumerang. Para penantang Infantino harus mencari kandidat sebelum batas waktu 18 November yang mampu menarik simpati baik federasi kecil maupun asosiasi kaya di kawasan tradisional.
Pertanyaannya kini: akankah Infantino mampu bertahan menghadapi tekanan ini, atau justru langkah nekatnya menjadi awal dari perombakan besar-besaran dalam tata kelola sepak bola dunia? Dengan tujuh bulan tersisa sebelum Kongres, semua mata tertuju pada langkah selanjutnya dari konfederasi regional dan federasi anggota.


