Harga Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Perundingan AS-Iran: Dampaknya bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia naik tipis setelah AS dan Iran saling bantah soal kelanjutan negosiasi, memicu kekhawatiran pasokan.
- Gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan Laut Merah masih berlanjut, menahan laju penurunan harga meski ada sinyal de-eskalasi.
- Fluktuasi harga minyak berpotensi mempengaruhi anggaran energi dan inflasi di Indonesia, yang masih bergantung pada impor minyak.

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan penguatan pada Selasa (4/8) setelah pernyataan yang saling bertentangan antara Washington dan Teheran mengenai kelanjutan perundingan perdamaian memicu kehati-hatian pelaku pasar. Kondisi ini terjadi di tengah gangguan distribusi energi yang masih membayangi jalur-jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz yang menjadi pintu utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Brent untuk pengiriman terdekat tercatat naik 1,24 persen menjadi US$84,81 per barel pada perdagangan pagi, setelah sehari sebelumnya anjlok hingga 7 persen ke level terendah dalam tiga pekan. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat tipis 0,37 persen ke posisi US$80,64 per barel, setelah terkoreksi lebih dari 5 persen pada sesi sebelumnya. Pasar masih mencerna pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim telah menahan diri dari serangan baru ke Iran demi memberi ruang bagi negosiasi, namun klaim tersebut langsung dibantah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei.
Pernyataan Baghaei yang menegaskan tidak ada perundingan maupun jadwal pertemuan dengan AS membuat investor enggan menghapus sepenuhnya risiko eskalasi. Ahmad Assiri, ahli strategi riset di Pepperstone, menilai penguatan harga yang tipis mengindikasikan pasar masih didominasi oleh sentimen geopolitik. "Investor belum berani mematok harga di luar kemungkinan konflik kembali memanas," ujarnya. Ketegangan ini berpusat pada sengketa kendali Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap harinya.
Analis ANZ menggarisbawahi bahwa ekspor dari kawasan Teluk masih tertekan, dengan lalu lintas kapal di Selat Hormuz baru membaik tipis dari level yang sangat rendah. Serangan terhadap kapal-kapal dagang masih membatasi arus distribusi. Pada Selasa pagi, badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations, melaporkan insiden di perairan timur laut Oman setelah sebuah kapal kargo diserang proyektil tak dikenal. Situasi serupa juga terjadi di Laut Merah, di mana enam kapal supertanker berbendera Saudi mengubah rute menuju Afrika Selatan, sementara dua kapal tanker minyak Saudi lainnya tetap melintasi Bab el-Mandeb.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga berarti beban tambahan pada anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi. Kementerian Keuangan sebelumnya telah mengalokasikan tambahan anggaran untuk kompensasi BBM, dan jika harga terus bertahan di atas US$80 per barel, tekanan pada APBN akan semakin terasa. Selain itu, gangguan pasokan dari Timur Tengah dapat mempengaruhi biaya logistik dan harga barang-barang impor, yang pada akhirnya berimbas pada daya beli masyarakat.
Goldman Sachs memperkirakan Brent akan bergerak dalam rentang US$80 hingga US$90 per barel sampai ada kepastian kesepakatan baru antara AS dan Iran atau eskalasi signifikan dalam serangan. Bank investasi itu juga mencatat pasar fisik minyak semakin ketat, dengan stok global turun 6,3 juta barel per hari dalam dua pekan terakhir, didorong oleh berkurangnya aliran dari Teluk Persia dan Laut Merah, menurunnya ekspor Rusia, serta kuatnya permintaan impor dari Asia, termasuk China. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada harapan damai, fundamental pasokan masih rapuh.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kedua belah pihak benar-benar bersedia duduk bersama atau justru kembali ke jalur konfrontasi. Jika perundingan gagal, bukan tidak mungkin harga minyak menembus level tertinggi baru, yang akan menjadi ujian berat bagi perekonomian negara-negara importir seperti Indonesia. Sebaliknya, jika ada kemajuan diplomatik, pasar bisa melihat koreksi harga yang signifikan. Yang jelas, ketidakpastian masih menjadi kata kunci, dan setiap pernyataan pejabat tinggi di Washington maupun Teheran akan terus menjadi penggerak utama harga minyak dunia.



