Dua Bendera dalam Satu Hati: Khedira Anggap Wajar Saudara Beda Tim di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Sami Khedira, pemenang Piala Dunia 2014 bersama Jerman, menilai fenomena saudara sekandung membela negara berbeda di Piala Dunia sebagai cerminan dunia modern yang multikultural.
- Piala Dunia 2026 akan menampilkan delapan pasang saudara, empat di antaranya bermain untuk tim berbeda, termasuk Inaki dan Nico Williams (Ghana vs Spanyol) serta Guela dan Desire Doue (Pantai Gading vs Prancis).
- Khedira menyoroti tekanan besar yang dihadapi pemain muda saat harus memilih federasi, dan menekankan pentingnya perasaan pribadi ketimbang tekanan politik atau warisan budaya.

Legenda sepak bola Jerman, Sami Khedira, yang pernah membawa negaranya juara Piala Dunia 2014, menilai fenomena saudara kandung yang membela tim nasional berbeda di ajang Piala Dunia bukanlah masalah identitas, melainkan potret indah dari dunia yang semakin terhubung. Menurutnya, dalam sepak bola modern, garis kewarganegaraan tidak lagi hitam-putih.
Khedira, yang lahir dan besar di Jerman dari ibu Jerman dan ayah Tunisia, memiliki pengalaman pribadi yang kuat. Adiknya, Rani Khedira, saat ini membela Tunisia di Piala Dunia 2026, sementara Sami sendiri memperkuat Jerman. "Saya tidak melihatnya sebagai masalah," ujar Khedira kepada La Gazzetta dello Sport di New York, Senin lalu. "Saya melihatnya sebagai dunia modern dan global di mana kita semua bersatu. Menurut pandangan saya, ini luar biasa."
Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini mencatatkan delapan pasang saudara yang berlaga. Empat di antaranya bermain untuk tim yang sama, seperti Theo dan Lucas Hernandez (Prancis) serta Jurrien dan Quinten Timber (Belanda). Namun, empat pasang lainnya justru terbelah: Inaki Williams membela Ghana sementara Nico Williams memilih Spanyol; Guela Doue berseragam Pantai Gading, Desire Doue bersama Prancis; Derrick Luckassen (Ghana) dan Brian Brobbey (Belanda); serta Harry Souttar (Australia) dan John Souttar (Skotlandia).
Bagi Khedira, momen paling mengharukan adalah saat menyaksikan saudara Doue menyanyikan kedua lagu kebangsaan sebelum laga persahabatan Prancis vs Pantai Gading. "Betapa indahnya itu? Itu multikultural, dan itu pesan kuat bagi dunia karena sepak bola sangat kuat," katanya. Ia menegaskan bahwa identitas ganda bukanlah beban, melainkan kekayaan yang membuat seseorang istimewa.
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini relevan mengingat banyak pemain keturunan Indonesia yang bermain di luar negeri dan berpotensi membela tim nasional. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) tengah gencar melakukan naturalisasi pemain diaspora. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemain, yang sering kali dihadapkan pada tekanan besar sejak usia muda. Khedira mengingatkan bahwa pilihan kewarganegaraan sepak bola seharusnya berdasarkan perasaan, bukan paksaan politik atau warisan semata.
Khedira juga menyoroti dampak positif ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim. Negara-negara seperti Tanjung Verde, Curacao, dan Haiti kini memiliki panggung untuk bersaing. Ia menilai kesenjangan antara Eropa-Amerika Selatan dengan Afrika-Asia semakin menipis berkat perbaikan pendidikan, pelatihan, dan infrastruktur. Namun, Eropa tetap memiliki tanggung jawab untuk membantu pengembangan sepak bola di negara asal pemain diaspora, bukan sekadar memanfaatkan bakat mereka.
Bagian tersulit, menurut Khedira, adalah tekanan yang dialami pemain muda saat harus memilih federasi. "Ini tentang perasaan hati. Tidak peduli di mana Anda lahir. Hanya perasaan di dalam yang mendorong Anda membuat keputusan penting dan pribadi. Tapi itu tekanan besar bagi anak-anak seusia itu, dan itu sangat, sangat berat," ungkapnya. Ia sendiri pernah dirayu Federasi Sepak Bola Tunisia saat berusia 18 tahun, namun akhirnya memilih Jerman karena ikatan batin yang lebih kuat.
Ke depan, fenomena saudara beda tim nasional diprediksi akan semakin umum seiring mengglobalnya sepak bola. Pertanyaannya, apakah federasi-federasi di Asia, termasuk Indonesia, siap bersaing tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam merebut hati para pemain diaspora?



