Teknologi Drone Deteksi Emisi: NNPC dan TotalEnergies Perpanjang Kerja Sama Dekarbonisasi
Baca dalam 60 detik
- NNPC dan TotalEnergies memperpanjang kerja sama dua tahun untuk menggunakan teknologi drone AUSEA guna mendeteksi dan mengurangi emisi metana serta karbon di operasi hulu migas Nigeria.
- Langkah ini merupakan bagian dari komitmen NNPC terhadap Oil & Gas Decarbonisation Charter dan target emisi metana mendekati nol pada 2030.
- Teknologi AUSEA, yang dikembangkan bersama CNRS dan Universitas Reims, memungkinkan identifikasi sumber emisi yang tidak terhitung dan optimalisasi efisiensi pembakaran flare.

Perusahaan minyak nasional Nigeria, NNPC Ltd., bersama raksasa energi Prancis TotalEnergies, kembali menandatangani perpanjangan perjanjian selama 24 bulan untuk menggelar teknologi canggih pendeteksi emisi metana dan karbon di wilayah operasi hulu migas Nigeria. Kesepakatan yang diteken di Abuja pada Rabu lalu ini menjadi sinyal bahwa tekanan global terhadap transparansi emisi kian mendorong aksi nyata di lapangan, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
Teknologi yang dimaksud adalah Airborne Ultralight Spectrometer for Environmental Applications (AUSEA), sebuah spektrometer ringan yang dipasang pada drone. Alat ini mampu mengukur konsentrasi metana dan karbon dioksida secara real-time, sekaligus mengidentifikasi sumber emisi yang selama ini luput dari sistem pelaporan konvensional. Perjanjian ini merupakan kelanjutan dari kerja sama serupa yang dimulai pada 2023, dan kini diperluas cakupannya ke lebih banyak aset NNPC.
Bagi NNPC, langkah ini bukan sekadar formalitas. Perusahaan pelat merah itu tengah berupaya memenuhi kewajiban pengurangan gas suar (gas flaring) yang tertuang dalam Oil & Gas Decarbonisation Charter (OGDC) serta target ambisius mendekati nol emisi metana pada 2030. Udy Ntia, Wakil Presiden Eksekutif Bidang Hulu NNPC, dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa inisiatif AUSEA menjadi pilar penting dalam membangun program dekarbonisasi yang kredibel dan transparan. “Kami memperkuat kemampuan mendeteksi, mengukur, dan memprioritaskan peluang pengurangan metana menggunakan teknologi pengukuran mutakhir,” ujarnya.
Mike Sangster, Wakil Presiden Senior TotalEnergies untuk Afrika, menyambut baik perpanjangan ini. Ia mengingatkan bahwa TotalEnergies merupakan perusahaan minyak pertama di Nigeria yang berhasil menghentikan praktik pembakaran gas suar di seluruh asetnya—sebuah pencapaian yang menurutnya tidak lepas dari peran teknologi AUSEA. “Kami berharap dapat mencapai emisi metana mendekati nol pada 2030,” kata Sangster. Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi serupa juga menjadi andalan TotalEnergies dalam memenuhi target iklim global.
Bagi Indonesia, kerja sama ini menyiratkan pelajaran penting. Sebagai negara dengan industri migas yang juga menghadapi tantangan serupa—baik dari sisi emisi metana maupun tekanan internasional untuk dekarbonisasi—penggunaan teknologi seperti AUSEA bisa menjadi opsi yang patut dipertimbangkan. Saat ini, Indonesia masih bergulat dengan masalah gas flaring di beberapa wilayah operasi, sementara target Nationally Determined Contribution (NDC) menuntut penurunan emisi yang signifikan. Kolaborasi antara perusahaan migas nasional dan mitra internasional seperti yang dilakukan NNPC dan TotalEnergies dapat menjadi model adopsi teknologi rendah karbon di Tanah Air.
Ke depan, efektivitas program dekarbonisasi NNPC akan sangat bergantung pada sejauh mana data dari AUSEA diintegrasikan ke dalam sistem pelaporan dan pengambilan keputusan operasional. Pertanyaan yang mengemuka: apakah teknologi ini akan benar-benar mempercepat pengurangan emisi, atau hanya menjadi alat dokumentasi tanpa dampak signifikan? Jawabannya akan menentukan kredibilitas komitmen dekarbonisasi Nigeria—dan bisa menjadi tolok ukur bagi negara-negara produsen minyak lainnya, termasuk Indonesia.


