Oracle Bantah Laporan Gagal Jalin Kerja Sama Cloud dengan Microsoft
Baca dalam 60 detik
- Oracle menyebut laporan Business Insider soal batalnya kesepakatan cloud senilai lebih dari US$3 miliar dengan Microsoft tidak akurat.
- Laporan sebelumnya mengklaim masalah keamanan dan kepatuhan menjadi penyebab kegagalan negosiasi, terutama terkait sertifikasi FedRAMP.
- Oracle menegaskan hubungan dengan Microsoft tetap kolaboratif dan produktif, serta terus menjajaki perluasan kerja sama.
Oracle secara resmi membantah laporan yang menyebutkan bahwa negosiasi kerja sama cloud infrastructure dengan Microsoft telah gagal. Dalam pernyataan resmi yang dikirimkan melalui surel, juru bicara Oracle menegaskan bahwa detail yang dimuat dalam laporan Business Insider tersebut tidak akurat.
Laporan Business Insider sebelumnya mengklaim bahwa diskusi antara kedua raksasa teknologi itu bubar karena masalah keamanan dan kepatuhan. Microsoft disebut berencana memindahkan sebagian beban kerja ke infrastruktur cloud Oracle, namun terganjal oleh ketiadaan sertifikasi Federal Risk and Authorization Management Program (FedRAMP) pada layanan publik Oracle. Sertifikasi ini merupakan kerangka keamanan yang diwajibkan untuk menangani data pemerintah Amerika Serikat. Business Insider juga menyebut Oracle enggan menambahkan sertifikasi tersebut, sehingga kesepakatan yang nilainya diperkirakan melebihi US$3 miliar itu kandas.
Menurut laporan yang sama, Microsoft kini tengah mencari kesepakatan dengan penyedia cloud lain guna memprioritaskan sumber daya komputasi awan Azure bagi para pelanggannya. Namun, klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters, dan Microsoft sendiri belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Oracle dengan tegas membantah narasi tersebut. โDetail yang disebutkan dalam artikel itu tidak akurat. Microsoft adalah mitra OCI sekaligus pelanggan. Kami memiliki kemitraan yang sangat kolaboratif dan produktif, dan sering berdiskusi tentang cara memperluas kerja sama yang sudah berjalan,โ ujar juru bicara Oracle. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa hubungan kedua perusahaan tetap solid, meskipun ada spekulasi mengenai persaingan di pasar cloud.
Bagi Indonesia, persaingan antara Oracle dan Microsoft di segmen cloud infrastructure patut dicermati. Kedua perusahaan sama-sama memiliki pusat data di dalam negeriโOracle melalui kolaborasi dengan Telkom dan Microsoft melalui Azure regions. Jika kerja sama Oracle-Microsoft benar-benar berjalan, hal itu bisa memperkuat ekosistem cloud hybrid di Indonesia, terutama bagi perusahaan yang membutuhkan kepatuhan terhadap regulasi data pemerintah. Namun, jika negosiasi memang menemui kendala teknis seperti yang dilaporkan, hal itu bisa menjadi pelajaran bagi penyedia cloud lokal untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Microsoft akan tetap menjadikan Oracle sebagai mitra strategis atau justru beralih ke penyedia cloud lain seperti Google Cloud atau AWS untuk mengoptimalkan Azure. Sementara itu, Oracle tampaknya berupaya menjaga citra kemitraan yang harmonis, sembari terus mengembangkan kapabilitas OCI agar mampu bersaing di pasar global.


