Regulator Nigeria Kaji Ulang Tarif Interkoneksi Operator Seluler Setelah 8 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Komisi Komunikasi Nigeria (NCC) memulai peninjauan menyeluruh terhadap Mobile Termination Rate (MTR) yang terakhir diperbarui pada 2018.
- Tarif saat ini dinilai tidak lagi mencerminkan biaya operasional akibat depresiasi naira, inflasi, dan kenaikan biaya energi.
- Kajian yang melibatkan KPMG ini diharapkan selesai dalam empat bulan dan akan mempertimbangkan teknologi 5G, AI, serta layanan OTT.

Komisi Komunikasi Nigeria (NCC) akhirnya membuka kembali keran evaluasi tarif interkoneksi antaroperator seluler, delapan tahun setelah angka terakhir ditetapkan. Langkah ini diambil menyusul tekanan ekonomi dan perubahan lanskap teknologi yang membuat tarif lama dianggap usang.
Kepala Divisi Persaingan dan Tarif NCC, Omotayo Mohammed, mengungkapkan bahwa tarif saat iniโN3,90 per menit untuk operator umum dan N4,70 per menit untuk pendatang baruโsudah tidak relevan dengan realitas biaya operasional. โDasar interkoneksi grosir memengaruhi semua pemangku kepentingan. Tarif yang tidak selaras dapat membuat operator dominan mematikan pesaing kecil, menghambat investasi infrastruktur, dan pada akhirnya membebani konsumen dengan harga eceran yang melambung,โ ujarnya dalam forum konsultasi di Lagos, Selasa lalu.
Penyesuaian tarif interkoneksi menjadi krusial karena struktur biaya operator berubah drastis sejak 2018. Depresiasi naira, inflasi dua digit, dan lonjakan harga energi telah menggerus margin laba. Di sisi lain, adopsi jaringan 5G, layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), dan Internet of Things (IoT) mengubah pola penggunaan jaringan secara fundamental. Platform Over-the-Top (OTT) seperti WhatsApp dan Telegram juga semakin banyak mengambil alih lalu lintas suara dan pesan, mengurangi ketergantungan pada interkoneksi tradisional.
NCC menunjuk KPMG sebagai konsultan untuk memimpin proses konsultasi dan pengumpulan data. Studi ini tidak hanya menyoroti MTR, tetapi juga tarif internasional (ITR) untuk mengatasi lalu lintas grey-route, serta kerangka harga bagi MVNO. โKami mengadopsi pendekatan berbasis bukti dan konsultatif. Pemangku kepentingan akan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan memvalidasi asumsi sebelum keputusan diambil,โ tegas Mohammed.
Dampak dari peninjauan ini diperkirakan akan terasa di seluruh rantai nilai telekomunikasi. Tarif yang lebih mencerminkan biaya diharapkan dapat mendorong investasi infrastruktur, meningkatkan akses ke layanan keuangan digital, dan menjaga keterjangkauan harga ritel. Direktur Urusan Publik NCC, Nnenna Ukoha, menekankan bahwa MTR adalah elemen sentral dalam struktur harga, persaingan, kualitas layanan, dan pengalaman konsumen. โPartisipasi luas sangat penting untuk menghasilkan keputusan yang seimbang dan berkelanjutan,โ katanya.
Bagi Indonesia, langkah NCC ini menjadi pengingat bahwa regulasi tarif interkoneksi harus terus dievaluasi seiring perubahan ekonomi dan teknologi. Di Indonesia, Kominfo dan BRTI terakhir menyesuaikan biaya interkoneksi pada 2019. Dengan inflasi dan depresiasi rupiah yang juga terjadi, operator Indonesia mungkin menghadapi tekanan serupa. Apakah regulator Indonesia akan mengikuti jejak Nigeria untuk meninjau kembali tarif interkoneksi yang sudah berusia setengah dekade?


