India Blokir Telegram Gegara Kebocoran Soal Ujian Kedokteran
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah India memblokir sementara Telegram karena dugaan penyalahgunaan platform untuk jual-beli soal ujian NEET yang bocor.
- Pemblokiran dilakukan berdasarkan undang-undang IT India dengan alasan kedaulatan negara, setelah upaya penghapusan konten dianggap gagal.
- Langkah ini menuai kritik dari pegiat kebebasan sipil yang menilai sanksi tersebut tidak menyentuh akar masalah kebocoran ujian.
Pemerintah India mengambil langkah drastis dengan memblokir sementara aplikasi perpesanan Telegram, setelah platform tersebut diduga dimanfaatkan oleh sindikat penipuan untuk memperdagangkan bocoran soal ujian masuk perguruan tinggi kedokteran nasional. Keputusan yang diumumkan pada Selasa (16/6) ini merupakan yang pertama kali dilakukan India terhadap layanan komunikasi berbasis cloud tersebut.
Langkah pemblokiran diambil oleh National Testing Agency (NTA) di bawah Kementerian Pendidikan India, menyusul kekhawatiran bahwa Telegram digunakan oleh saluran-saluran tertentu yang menawarkan akses ke soal Ujian Nasional Kelayakan dan Masuk (NEET) 2026. Ujian susulan dijadwalkan pada 21 Juni, setelah edisi sebelumnya dibatalkan akibat kebocoran soal yang mempengaruhi 2,3 juta peserta.
Pemerintah India menyatakan bahwa pembatasan akses terhadap Telegram bersifat sementara dan terbatas, serta diterapkan berdasarkan ketentuan ketat dalam undang-undang teknologi informasi yang mengizinkan pemblokiran demi "kepentingan kedaulatan dan integritas India". Dalam pernyataannya, pemerintah menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan menegaskan bahwa langkah ini merupakan "upaya terakhir" setelah tindakan penghapusan konten serupa sebelumnya tidak membuahkan hasil.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari kelompok pegiat kebebasan sipil. Internet Freedom Foundation (IFF) menilai pemblokiran Telegram sebagai "solusi tambal sulam" yang tidak proporsional dan tidak akan menyelesaikan masalah kebocoran ujian. "Menutup Telegram akan menghukum pengguna biasa alih-alih mengatasi sumber sistemik kebocoran ujian," ujar perwakilan IFF dalam pernyataannya.
Kebocoran soal NEET sebelumnya telah memicu gelombang protes di berbagai wilayah India, termasuk demonstrasi yang digelar oleh kelompok Cockroach Janta Party yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi seputar sistem ujian nasional India yang kerap dihantui kecurangan.
Hingga berita ini diturunkan, Telegram belum memberikan tanggapan resmi atas pemblokiran tersebut. Sementara itu, tiga operator seluler utama IndiaโReliance Jio, Bharti Airtel, dan Vodafone Ideaโbelum mengonfirmasi apakah mereka telah menerima dan mulai melaksanakan perintah pemblokiran. Google dan Apple, yang mengoperasikan toko aplikasi utama di India, juga belum memberikan pernyataan.
Bagi Indonesia, langkah India ini menjadi preseden penting dalam pengaturan platform digital. Dengan jumlah pengguna Telegram yang signifikan di Indonesia, kebijakan serupa dapat menjadi pertimbangan jika platform tersebut disalahgunakan untuk kegiatan ilegal, termasuk kecurangan ujian nasional. Namun, langkah pemblokiran juga harus diimbangi dengan upaya perbaikan sistemik agar tidak menimbulkan dampak berlebihan bagi pengguna biasa. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah pembatasan akses benar-benar efektif memberantas kecurangan, atau justru menimbulkan masalah baru dalam kebebasan berkomunikasi?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260138/original/072176600_1781577859-Tugas__36_.jpg)

