Bitcoin Tembus $66.328: Morgan Stanley Pasang Target Rp15,8 Triliun, Pasar Kripto Terbang
Baca dalam 60 detik
- Morgan Stanley memproyeksikan Bitcoin bisa menyentuh US$1 juta pada 2030, mendorong reli harga dan short squeeze senilai US$86,89 juta.
- Kesepakatan damai AS-Iran di Selat Hormuz memicu risk-on global, mengangkat aset kripto dan mengalihkan dana dari minyak.
- ETF Bitcoin spot mencatat aliran masuk bersih US$85,9 juta, mengindikasikan kembalinya minat institusi di tengah ekspektasi kebijakan The Fed.

Bitcoin (BTC) melesat 1% ke level US$66.328 pada Selasa (17/6) setelah aksi ambil untung moderat investor, memimpin pemulihan pasar yang dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik dan proyeksi harga ambisius dari Morgan Stanley. Pergerakan ini diperkuat oleh short squeeze di pasar derivatif, saat para pelaku pasar bereaksi positif terhadap target harga setinggi langit bank investasi terkemuka AS tersebut.
Kepala Strategi Aset Digital Morgan Stanley, Amy Oldenburg, menyatakan bahwa Bitcoin berpotensi mencapai US$1 juta pada 2030, meskipun ia menekankan perlunya katalis besar untuk merealisasikan skenario tersebut. Proyeksi ini muncul saat harga Bitcoin masih sekitar 45% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada 2025. Oldenburg mencatat tingginya minat klien terhadap ETF Bitcoin mereka, namun adopsi oleh penasihat keuangan masih tertinggal karena kesenjangan pengetahuan.
Pernyataan Morgan Stanley menjadi angin segar bagi narasi bullish jangka panjang Bitcoin, menandakan bahwa institusi keuangan tradisional mulai memodelkan skenario pertumbuhan ekstrem secara serius. Hal ini memperkuat tesis store-of-value Bitcoin, tetapi juga menggarisbawahi perlunya gelombang adopsi baru untuk mendorong apresiasi sebesar itu. Oldenburg menambahkan bahwa cerita adopsi jangka panjang Bitcoin masih berada di tahap awal, meskipun institusi besar terus membangun produk di sekitar aset ini.
Morgan Stanley baru saja meluncurkan produk exchange-traded Bitcoin (MSBT) yang menurut Oldenburg mencatat debut ETF terbaik dalam sejarah perusahaan. Bank tersebut merekomendasikan alokasi Bitcoin sebesar 0%-2% di beberapa portofolio dan 2%-4% di portofolio yang lebih agresif. Namun, adopsi di kalangan penasihat keuangan masih lebih lambat dibandingkan minat klien, yang ia kaitkan terutama dengan kurangnya edukasi.
Di sisi makro, reli kripto juga didorong oleh pengumuman nota kesepahaman antara AS dan Iran pada 15 Juni yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Langkah ini meredakan kekhawatiran akan guncangan pasokan global, memicu pergerakan risk-on klasik yang mengangkat ekuitas, menekan harga minyak, dan mendorong aset kripto sebagai instrumen berdurasi panjang yang sensitif terhadap risiko. Lonjakan harga mendadak memaksa likuidasi US$86,89 juta dalam posisi short Bitcoin, menciptakan efek reflexive squeeze yang mempercepat kenaikan.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini menguji level breakout kunci di dekat US$66.440. Jika bertahan di atas level tersebut, harga berpotensi mendorong menuju retracement Fibonacci 61,8% di US$66.531. Katalis jangka pendek utama adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed dan pembaruan Dot Plot pada 17 Juni. Sikap dovish dapat memperpanjang reli, sementara kejutan hawkish bisa memicu aksi ambil untung menuju zona support US$63.730โUS$65.000.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin ini relevan mengingat meningkatnya minat terhadap aset kripto di tanah air, meskipun regulasi masih ketat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus mengawasi perdagangan aset digital, sementara adopsi oleh institusi global seperti Morgan Stanley bisa menjadi sinyal positif bagi pasar domestik. Namun, investor ritel Indonesia perlu mewaspadai volatilitas tinggi dan risiko kebijakan The Fed yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan aliran modal.
Kombinasi reset sentimen makro dan short squeeze teknis telah menyiapkan panggung bagi Bitcoin untuk menguji resistensi yang lebih tinggi. Namun, pergerakan ini masih rentan terhadap retorika bank sentral dan perlu mengonfirmasi breakout-nya. Akankah Bitcoin mampu menembus level psikologis US$70.000 dalam waktu dekat, atau justru kembali terjerembab oleh sikap hawkish The Fed?



