Gelombang PHK Massal Ancam Industri Gim Global: Bethesda, BioWare, dan Quantic Dream Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Microsoft diprediksi akan menutup sejumlah studio gim internalnya pada Juli, termasuk Compulsion Games dan Ninja Theory, sebagai bagian dari strategi 'reset' besar-besaran.
- Jurnalis BFMTV melaporkan bahwa gelombang PHK juga akan melanda studio ternama seperti Bethesda Game Studios, BioWare, dan Quantic Dream, menandai krisis terburuk industri gim.
- Dampak PHK massal ini berpotensi memicu ketidakpastian bagi pengembang gim di Indonesia yang bergantung pada proyek outsourcing dan kolaborasi global.

Juli 2026 diprediksi menjadi bulan kelam bagi industri gim global. Microsoft dikabarkan akan melakukan 'reset' besar-besaran dengan menutup sejumlah studio internalnya, sementara gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan juga akan menerpa pengembang-pengembang raksasa seperti Bethesda Game Studios, BioWare, dan Quantic Dream. Situasi ini memicu kekhawatiran akan masa depan ribuan pekerja kreatif di sektor yang selama ini tumbuh pesat.
Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Microsoft akan menutup Compulsion Games, Ninja Theory, dan Arkane Studios. Double Fine, pengembang gim legendaris di balik Psychonauts, juga masuk dalam daftar, meskipun studio tersebut memiliki klausul pembelian yang memungkinkannya menjadi independen. Langkah ini merupakan bagian dari strategi efisiensi Microsoft pasca akuisisi besar-besaran Activision Blizzard.
Jurnalis BFMTV, Sylvain Trinel, melalui akun media sosialnya mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di Microsoft hanyalah awal dari 'pertumpahan darah' yang lebih luas. Menurutnya, studio seperti DONโT NOD, Quantic Dream, Bethesda Game Studios (Fallout, The Elder Scrolls), id Software (DOOM), dan BioWare (Mass Effect) juga akan mengalami PHK massal. Trinel bahkan menyebut Juli akan menjadi 'bencana' bagi industri gim.
Fenomena PHK massal ini bukanlah hal baru. Sepanjang 2024โ2025, industri gim global telah kehilangan lebih dari 20.000 pekerja akibat restrukturisasi perusahaan. Namun, skala yang diprediksi terjadi pada Juli 2026 dinilai lebih masif karena menyasar studio-studio yang selama ini dianggap sebagai pilar industri. Para analis menilai bahwa tekanan dari pemegang saham untuk mencapai profitabilitas jangka pendek menjadi pendorong utama keputusan ini.
Bagi Indonesia, gelombang PHK ini membawa implikasi serius. Banyak pengembang gim lokal yang bergantung pada proyek outsourcing dari studio-studio besar dunia. Jika studio-studio tersebut tutup atau mengurangi aktivitas, aliran proyek ke Indonesia bisa terhambat. Selain itu, pekerja Indonesia yang bekerja di perusahaan gim multinasional juga berisiko terkena dampak langsung. Asosiasi Game Indonesia (AGI) sebelumnya telah menyoroti kerentanan ini dan mendorong diversifikasi pasar.
Pertanyaan besarnya, apakah industri gim global mampu bangkit kembali setelah gelombang PHK ini? Atau justru akan memicu pergeseran model bisnis ke arah pengembangan gim independen yang lebih kecil namun lebih adaptif? Yang jelas, Juli 2026 akan menjadi ujian bagi ketahanan ekosistem gim dunia, termasuk Indonesia yang mulai menapaki jejak sebagai pemain baru di industri kreatif digital.



