Oliver Tree Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter, Wasiatnya: Keluarga Tak Dapat Seperak Pun
Baca dalam 60 detik
- Oliver Tree, penyanyi Miss You, tewas bersama lima orang lain dalam tabrakan dua helikopter di Rio de Janeiro pada 14 Juni 2026.
- Beberapa pekan sebelum meninggal, ia mengungkapkan dalam wawancara bahwa seluruh kekayaannya akan disumbangkan ke sesama seniman, bukan keluarga.
- Keputusan kontroversial ini memicu perdebatan tentang hak waris dan tanggung jawab artis terhadap keluarga di industri hiburan.

Oliver Tree, penyanyi dan produser musik berusia 32 tahun, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (14/6/2026). Ia termasuk enam korban tewas akibat tabrakan dua helikopter yang kemudian meledak dan menghanguskan sebuah dealer mobil listrik. Namun, di balik tragedi itu, publik dikejutkan oleh pernyataan Tree beberapa pekan sebelumnya: ia telah menyusun wasiat yang memastikan keluarganya tidak akan menerima "sepeser pun" dari harta warisannya.
Dalam wawancara dengan The Zach Sang Show yang dirilis tak lama sebelum kematiannya, Tree dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak menganggap kekayaan yang diperoleh dari karier musiknya sebagai milik pribadi. "Saya tidak percaya bahwa kekayaan atau apa pun yang dihasilkan dari karier ini adalah milik saya. Jadi ketika saya meninggal—saya sudah mengaturnya—surat wasiat saya sudah disusun sehingga keluarga saya tidak akan mendapatkan sepeser pun," ujarnya. Ia bahkan menegaskan bahwa jika ia memiliki pasangan atau anak, mereka pun tidak akan mendapat warisan, meskipun ia bersedia membiayai pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.
Tree, yang akan berusia 33 tahun pada 29 Juni, justru mengalokasikan seluruh kekayaannya untuk disumbangkan kembali kepada para seniman. Ia telah membentuk sebuah komite yang akan memutuskan penerima dana setiap tahun melalui mekanisme voting. "Saya sudah menyiapkan komite—dan saya berencana melakukannya semasa hidup—di mana semua orang akan memilih ke mana uang itu akan pergi setiap tahun," jelasnya. Keputusan ini, menurut Tree, didasari keyakinan bahwa karya seninya akan lebih dihargai setelah ia tiada.
Keputusan Tree menuai reaksi beragam. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama seniman yang kerap kesulitan secara finansial. Namun, di sisi lain, banyak yang mempertanyakan etika menafikan keluarga dalam pembagian warisan. "Ini pilihan pribadi yang radikal, tapi juga menunjukkan betapa rumitnya hubungan artis dengan keluarga dan uang," ujar seorang pengamat industri musik. Di Indonesia, perdebatan serupa pernah muncul ketika beberapa musisi memilih mewariskan hak cipta ke yayasan sosial, bukan ke ahli waris langsung.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Tree terjadi ketika dua helikopter bertabrakan di udara dan jatuh di atas dealer mobil listrik. Salah satu helikopter meledak, memicu kebakaran yang menghanguskan 20 kendaraan. Tim pemadam kebakaran militer Rio de Janeiro mengonfirmasi bahwa Tree, Frota, Gaspi (nama asli Gaspar Prim), dan dua orang lainnya berada dalam satu helikopter, sementara satu pilot mengendarai helikopter lain. Rekan sesama artis, KSI, menyampaikan duka mendalam melalui media sosial, mengaku masih tidak percaya dengan kepergian Tree. "Kau baru 32 tahun, seharusnya masih di sini. Masih banyak musik dan konten yang bisa dibuat. Kau legenda dan akan selalu legenda. Masih terasa tidak nyata. Aku benar-benar mual. Aku mencintaimu, kawan," tulisnya.
Wasiat Oliver Tree membuka kembali diskusi tentang hak waris di kalangan selebritas. Di Indonesia, Undang-Undang Waris mengatur bagian mutlak untuk ahli waris, namun wasiat dapat mengalihkan harta selama tidak melanggar ketentuan tersebut. Pertanyaannya, apakah langkah Tree akan menjadi tren baru di industri musik? Atau justru memicu resistensi dari keluarga yang merasa diabaikan? Yang jelas, keputusan ini memastikan bahwa namanya akan terus dikenang, bukan hanya karena musiknya, tetapi juga karena pilihan hidup yang berani.



