Microsoft Tutup Ninja Theory, Pengembang Hellblade: Masa Depan Seri Senua Terancam
Baca dalam 60 detik
- Microsoft dikabarkan menutup Ninja Theory, studio di balik Hellblade, hanya beberapa hari setelah mengumumkan seri ketiga.
- Keputusan ini menambah daftar panjang penutupan studio di bawah divisi Xbox, memicu kekhawatiran akan strategi akuisisi Microsoft.
- Nasib proyek Senua dan potensi pembeli Ninja Theory masih belum jelas, dengan industri game global dan Indonesia mencermati dampaknya.

Microsoft dikabarkan telah memutuskan untuk menutup Ninja Theory, studio pengembang game ternama asal Inggris yang dikenal lewat seri Hellblade. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat baru beberapa hari lalu, tepatnya pada 7 Juni lalu, studio tersebut mengumumkan proyek terbaru mereka, Senua, yang merupakan sekuel ketiga dari waralaba Hellblade dalam ajang Xbox Games Showcase.
Menurut laporan The Verge, keputusan penutupan diambil pada Senin pekan ini dan merupakan bagian dari gelombang restrukturisasi yang tengah melanda divisi Xbox. Sejumlah studio lain dikabarkan tengah bernegosiasi dengan Microsoft untuk membeli kembali independensi mereka. Namun, Ninja Theory disebut tidak termasuk dalam daftar yang berhasil selamat. Studio yang didirikan pada tahun 2000 ini sebelumnya telah diakuisisi oleh Microsoft pada tahun 2018 dan merilis Hellblade: Senua's Sacrifice yang mendapat pujian kritis.
Penutupan ini menjadi ironi tersendiri karena Ninja Theory baru saja menyelesaikan proyek Hellblade II yang dirilis pada Mei lalu dan mendapat sambutan positif. Pengumuman Senua di acara showcase seharusnya menjadi sinyal bahwa Microsoft masih percaya pada visi kreatif studio tersebut. Namun, keputusan mendadak ini justru mempertanyakan komitmen Microsoft terhadap pengembangan game naratif berkualitas tinggi.
Bagi industri game global, langkah ini menambah daftar panjang penutupan studio di bawah kepemilikan Microsoft. Sebelumnya, Tango Gameworks dan Arkane Austin juga ditutup pada awal tahun ini. Para analis menilai bahwa Microsoft tengah melakukan efisiensi besar-besaran setelah akuisisi besar Activision Bl senilai 69 miliar dolar AS, yang memicu tekanan finansial untuk memangkas biaya operasional.
Dampak bagi pasar game Indonesia pun patut dicermati. Komunitas gamer Tanah Air cukup antusias menyambut Hellblade II dan rencana seri ketiganya. Banyak yang telah melakukan pre-order atau mengikuti perkembangan game tersebut. Dengan penutupan ini, kelanjutan seri Senua menjadi tidak pasti. Hal ini juga memicu kekhawatiran akan masa depan game-game naratif yang membutuhkan investasi jangka panjang, di tengah tren industri yang semakin mengarah ke game live-service dan multiplatform.
Menurut pengamat industri game, Andi Surya, keputusan Microsoft ini menunjukkan bahwa raksasa teknologi tersebut lebih mementingkan profitabilitas jangka pendek daripada membangun waralaba ikonik. โNinja Theory adalah studio dengan DNA kreatif yang kuat. Menutupnya setelah merilis game yang sukses secara kritis adalah langkah yang kontradiktif,โ ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa para pengembang di Ninja Theory mungkin akan mencari rumah baru, namun tidak mudah bagi studio independen untuk bertahan di tengah dominasi penerbit besar.
Nasib proyek Senua kini menggantung. Ninja Theory dikabarkan akan mencoba mencari pembeli agar tidak sepenuhnya bubar. Namun, jika tidak ada yang berminat, maka pengembangan Senua kemungkinan besar akan dihentikan. Pertanyaan besarnya adalah: apakah Microsoft akan memberikan lisensi waralaba Hellblade kepada studio lain, atau membiarkan waralaba ini mati begitu saja? Jawabannya akan menentukan arah strategi konten Xbox ke depan, sekaligus menjadi ujian kepercayaan para penggemar setia.



