Everton Incar Pulangkan John Stones: Reuni dengan Moyes di Momen Krusial
Baca dalam 60 detik
- Everton dikabarkan dalam pembicaraan lanjutan untuk mendatangkan kembali John Stones, bek tengah yang kontraknya di Manchester City telah habis.
- Kedatangan Stones diyakini tidak hanya memperkuat lini belakang, tetapi juga menjadi fondasi permainan penguasaan bola yang diinginkan David Moyes.
- Kesepakatan masih terhambat jadwal Piala Dunia, namun klub optimistis menyelesaikan transfer bebas transfer ini dalam waktu dekat.

David Moyes tengah bersiap menyambut pulang salah satu putra terbaik Everton: John Stones. Bek tengah berusia 32 tahun itu dikabarkan tengah dalam pembicaraan lanjutan dengan The Toffees setelah kontraknya di Manchester City resmi berakhir. Jika terealisasi, transfer ini bukan sekadar reuni nostalgia, melainkan langkah strategis untuk membawa Everton ke level berikutnya.
Menurut laporan Sports Boom yang dikutip Football Fancast, Everton sudah memasuki tahap negosiasi intensif dengan perwakilan Stones. Klub asal Merseyside itu optimistis dapat menyelesaikan kesepakatan meskipun prosesnya sedikit melambat karena Stones tengah fokus membela Timnas Inggris di Piala Dunia. Kepercayaan diri Everton bukannya tanpa alasan: Stones sudah pernah membela Everton sebelumnya, dan kembalinya ia ke Goodison Park dianggap sebagai langkah brilian Moyes.
Stones meninggalkan Manchester City sebagai salah satu bek paling sukses di generasinya. Meski kerap diganggu cedera, ia tetap menjadi simbol keandalan dan kecerdasan dalam membaca permainan. Jurnalis Henry Winter bahkan pernah menjulukinya sebagai pemain kelas dunia. Kemampuan distribusi bola yang luar biasa dan visi bermainnya membuat Stones bukan sekadar bek biasa—ia adalah pemain yang bisa mengubah cara tim membangun serangan.
Kebutuhan Everton akan figur seperti Stones semakin mendesak. Jarrad Branthwaite, bek muda andalan, masih bergulat dengan masalah kebugaran yang berkepanjangan. Kehadiran Stones tidak hanya memberikan solusi jangka pendek, tetapi juga menjadi mentor bagi pemain muda di sekitarnya. Lebih dari itu, Stones bisa menjadi katalis perubahan gaya bermain Everton menjadi lebih dominan dalam penguasaan bola—sesuatu yang diidamkan Moyes.
Namun, transfer ini bukan tanpa risiko. Usia Stones yang sudah 32 tahun dan riwayat cedera menjadi catatan tersendiri. Meski begitu, dampak yang bisa ia berikan di luar lapangan—kepemimpinan, pengalaman, dan mentalitas juara—sulit diukur dengan angka. Moyes, yang pernah membesarkan Stones di awal kariernya, diyakini tahu cara memaksimalkan potensi sang bek.
Di sisi lain, Everton masih memiliki pekerjaan rumah lain: mencari bek kanan alami, menambah daya gedor di lini depan, dan memperjelas masa depan Jack Grealish serta Iliman Ndiaye. Ndiaye, yang menjadi primadona sejak 2024, tengah diburu banyak klub. Jika Stones datang, ia akan menjadi sosok berbeda namun sama pentingnya dalam proyek Moyes.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana klub Premier League kelas menengah berusaha bangkit dengan memanfaatkan pasar pemain bebas transfer. Strategi serupa bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Liga Indonesia yang kerap kesulitan bersaing di bursa transfer. Kejelian dalam merekrut pemain berpengalaman dengan status gratis bisa menjadi kunci sukses di tengah keterbatasan anggaran.
Pertanyaan besarnya: akankah Stones mampu membawa Everton keluar dari zona bawah dan kembali ke papan atas Premier League? Atau justru cedera akan kembali menghantui kariernya? Yang jelas, langkah Everton ini menunjukkan ambisi yang tidak main-main—dan Moyes tahu persis apa yang ia lakukan.



