Gaethje Pukul Mundur Topuria di Halaman Gedung Putih, Trump Beri Ucapan Selamat
Baca dalam 60 detik
- Justin Gaethje mengalahkan Ilia Topuria melalui TKO ronde keempat dalam laga UFC Freedom 250 yang digelar di halaman Gedung Putih.
- Pertarungan bersejarah itu menjadi ajang profesional pertama yang digelar di kompleks kepresidenan AS, disaksikan langsung oleh Presiden Donald Trump.
- Kemenangan ini membuka peluang duel ulang Gaethje dengan petarung lain, sekaligus menandai era baru penyelenggaraan olahraga di lokasi ikonik.

Justin Gaethje menciptakan kejutan besar di dunia mixed martial arts dengan menghentikan Ilia Topuria pada ronde keempat dalam laga perebutan gelar juara kelas ringan UFC yang digelar di halaman Gedung Putih, Minggu (4/7) waktu setempat. Pertarungan yang menjadi bagian dari perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat itu berakhir setelah kubu Topuria memutuskan menghentikan pertarungan sebelum ronde kelima dimulai.
Petarung berusia 37 tahun itu, yang datang sebagai underdog dengan odds 6-1, tampil agresif sejak ronde pertama. Meskipun sempat goyah akibat pukulan tubuh Topuria di ronde kedua, Gaethje bangkit dan mendominasi dengan pukulan keras serta lutut yang membuat wajah lawannya membengkak. Dokter sempat memeriksa Topuria sebelum ronde keempat, namun ia tetap bertahan hingga akhirnya timnya menyerah.
Kemenangan ini menjadi gelar juara dunia pertama Gaethje setelah dua kali gagal di kesempatan sebelumnya. Dalam wawancara usai pertarungan, ia menyebut momen tersebut sebagai puncak kariernya. โSaya tercipta untuk momen ini, olahraga ini diciptakan untuk saya. Saya petarung paling menarik yang pernah naik ke oktagon,โ ujarnya.
Acara yang diberi nama UFC Freedom 250 ini menjadi pertunjukan olahraga profesional pertama yang digelar di kompleks Gedung Putih. Sebelumnya, halaman selatan hanya digunakan untuk acara rekreasi. Presiden Donald Trump dan presiden UFC Dana White membuka acara dengan berjalan dari dalam Gedung Putih menuju balkon Truman, diiringi lagu kebangsaan dan pesawat tempur Angkatan Udara AS yang melintas di atas.
Dalam laga utama pendamping, Ciryl Gane menghentikan ambisi Alex Pereira untuk menjadi juara tiga divisi pertama dalam sejarah UFC. Gane, petarung asal Prancis, menjatuhkan Pereira dengan pukulan jab yang sempurna di ronde kedua, memaksa wasit menghentikan pertarungan. Kemenangan ini menjadikan Gane juara interim kelas berat untuk kedua kalinya.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, pertarungan ini menunjukkan bahwa UFC terus mencari cara inovatif untuk menyajikan tontonan spektakuler. Kolaborasi dengan Gedung Putih membuka peluang bagi ajang serupa di masa depan, meskipun belum ada rencana konkret untuk membawa UFC ke Indonesia. Namun, popularitas olahraga ini di tanah air terus meningkat, dengan banyak petarung lokal yang bermimpi tampil di panggung dunia.
โSaya dari Amerika, 250 tahun lalu kami adalah underdog yang jauh lebih besar dari 6-1, dan lihat kami sekarang,โ kata Gaethje dalam pidato kemenangannya, merujuk pada semangat kemerdekaan AS.
Ke depan, Gaethje kemungkinan akan menghadapi penantang baru di kelas ringan, sementara Topuria harus memutuskan apakah akan kembali ke kelas bulu atau tetap di kelas ringan. Pertarungan di Gedung Putih ini menjadi bukti bahwa UFC mampu menciptakan momen bersejarah yang melampaui batas olahraga. Akankah Indonesia suatu hari menjadi tuan rumah ajang serupa? Hanya waktu yang bisa menjawab.



