IPO SpaceX: Antrean Raksasa US$250 Miliar, tapi Laba Masih Mimpi
Baca dalam 60 detik
- SpaceX menargetkan dana segar US$75 miliar dari IPO yang kelebihan permintaan hingga empat kali lipat, dengan valuasi US$1,8 triliun.
- Meski dominan di industri antariksa, perusahaan masih merugi—US$4,9 miliar pada 2025 dan US$4,3 miliar di kuartal I-2026—dan tak mengharapkan profit dalam waktu dekat.
- Analis memperingatkan valuasi bertumpu pada visi jangka panjang Elon Musk, bukan kinerja saat ini; risiko besar jika eksekusi teknologi orbital AI dan Mars tak sesuai jadwal.

IPO SpaceX, yang dijadwalkan pada Jumat (12 Juni), telah mencatatkan kelebihan permintaan hampir empat kali lipat dengan total pesanan lebih dari US$250 miliar—sebuah rekor yang sekaligus mengantarkan Elon Musk menuju status triliuner pertama di dunia. Namun di balik euforia itu, sederet pertanyaan mendasar menggantung: mampukah valuasi setinggi langit itu dipertahankan ketika fundamental bisnis masih menunjukkan kerugian besar?
Perusahaan roket milik Musk ini berencana menggalang dana hingga US$75 miliar melalui penawaran 555 juta lembar saham dengan harga US$135 per lembar. Angka itu melampaui rekor IPO Saudi Aramco yang US$25,6 miliar. Valuasi yang dibidik mencapai US$1,8 triliun—lebih dari dua kali lipat estimasi Morningstar yang hanya US$780 miliar atau setara US$63 per saham. Artinya, harga IPO diskon 53% dari nilai wajar menurut lembaga riset tersebut.
“Fundamental SpaceX sangat berat. Jika tidak ada ekspektasi setinggi itu, IPO ini tak akan terjadi,” ujar Ed O'Gorman, CEO River Wealth Advisors yang juga pemegang saham Tesla. Senada, Jay Ritter, direktur inisiatif IPO Universitas Florida, menegaskan bahwa banyak hal harus berjalan sempurna untuk membenarkan valuasi tersebut. “Pada harga yang terlalu tinggi, perusahaan hebat pun belum tentu investasi bagus,” katanya.
SpaceX menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai motor pertumbuhan masa depan. Dalam prospektus IPO, perusahaan mengklaim sebagai satu-satunya entitas yang memiliki jalur komersial untuk membangun infrastruktur komputasi AI orbital dalam skala besar, dengan potensi pendapatan hingga US$26,5 triliun. Namun teknologinya belum ada. Uji coba baru ditargetkan mulai akhir 2027, sementara roket Starship yang menjadi tulang punggung masih tertinggal dari jadwal awal Musk dan belum menunjukkan kemampuan penggunaan ulang cepat yang ekonomis.
Goldman Sachs memperkirakan pendapatan divisi AI SpaceX melonjak dari US$3,2 miliar menjadi US$322 miliar pada 2030. Namun Morningstar memberi peringkat ketidakpastian “sangat tinggi” karena risiko eksekusi strategi, evolusi teknologi, dan pembangunan AI. “Menempatkan pusat data di luar angkasa penuh ketidakpastian,” kata Prof. Ritter, “dan mengirim manusia ke Mars kemungkinan tidak akan menguntungkan.”
Bagi investor Indonesia, IPO SpaceX membuka peluang diversifikasi ke sektor antariksa dan AI yang belum banyak tersedia di bursa domestik. Namun dengan valuasi yang sangat bergantung pada visi jangka panjang—bukan laba saat ini—risiko koreksi harga pasca-IPO patut diwaspadai. Momentum aksi jual oleh investor awal dan karyawan yang mulai bisa mencairkan sahamnya dalam beberapa bulan ke depan bisa menjadi pintu masuk bagi investor yang sabar menunggu harga lebih rasional.
Pertanyaan kuncinya: mampukah SpaceX mewujudkan ambisi orbital AI dan Mars sebelum kehabisan dana segar? Ataukah IPO ini sekadar pesta spekulasi yang akan meninggalkan kerugian bagi investor yang terjebak euforia?


