Graham Coxon: Menjadi Penulis Lagu di Bayang-Bayang Damon Albarn Itu Kerja Keras
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Blur, Graham Coxon, mengakui perjuangannya mengasah kemampuan menulis lagu di samping rekan satu bandnya, Damon Albarn, yang sudah lebih dulu matang.
- Album solo 'hilang' berjudul Castle Park akhirnya dirilis setelah 12 tahun, berisi sepuluh lagu sisa sesi rekaman A+E yang sempat dianggap kurang relevan.
- Coxon menyebut proses kreatifnya kerap dipengaruhi alam bawah sadar, seperti lagu Isn't It Funny yang datang lewat mimpi.

Gitaris Blur, Graham Coxon, akhirnya merilis album solo yang sempat 'hilang' selama lebih dari satu dekade, Castle Park, dan dalam wawancara terbaru ia mengakui bahwa menjadi penulis lagu di samping Damon Albarn adalah pekerjaan yang melelahkan secara mental.
Dalam perbincangan dengan The Sun, musisi berusia 57 tahun itu menceritakan bagaimana ia berjuang mengembangkan kemampuannya menulis lagu saat Albarn, yang sudah menghasilkan sejumlah hits besar, menjadi sahabat sekaligus tolok ukurnya. “Mencoba berkembang sebagai penulis lagu ketika Damon Albarn adalah sahabat karibmu itu kerja keras. Maksudku, dia sudah menulis lagu-lagu yang sangat bagus saat itu,” ujar Coxon.
Album debut solonya, The Sky Is Too High, dirilis pada 1998 di sela album Blur yang self-titled dan 13. Namun, para personel Blur nyaris tidak membahas proyek tersebut. Coxon hanya sekali mendapati Albarn menyanyikan lagu R U Lonely? dan berkomentar, “Itu lagu yang cukup catchy.” Momen kecil itu menjadi semacam validasi yang berarti baginya.
Castle Park sebenarnya adalah kumpulan lagu yang tersisa dari sesi rekaman album A+E pada 2012. Saat itu Coxon merekam 20 lagu, separuh di antaranya menjadi A+E yang berbasis improvisasi bass, sementara sepuluh lainnya memiliki nuansa berbeda—lebih tradisional, jingle-jangly, dengan pengaruh musik era 1960-an. “Aku benar-benar tidak yakin apa yang terjadi. Mungkin karena kurang percaya diri. Mungkin aku pikir lagu-lagu ini tidak modis dan tidak akan ada yang peduli,” kenangnya.
Salah satu lagu favorit Coxon di album ini adalah Isn't It Funny, yang datang kepadanya dalam mimpi. “Aku mendengar akord dan setengah bagian chorus, lalu aku terbangun. Kupikir, 'Ya ampun, aku harus segera mencatat ini,'” katanya. Ia juga mengaku bahwa dalam karya-karyanya selalu ada kehadiran “semangat feminin yang sulit dipahami” atau dewi alam, yang muncul secara alami tanpa sengaja diciptakan.
Bagi penggemar musik indie di Indonesia, perjalanan Coxon ini menarik karena mencerminkan dinamika kreatif yang kerap terjadi di grup band besar. Di dalam negeri, fenomena personel yang merasa tertekan karena harus bersaing dengan penulis lagu utama juga lazim terjadi, misalnya di grup seperti Sheila on 7 atau Padi. Kisah Coxon mengingatkan bahwa di balik harmoni musik, seringkali ada perjuangan individu yang tak terlihat.
Dengan dirilisnya Castle Park, Coxon merasa tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan. “Sekarang semuanya sudah terbuka. Kalian punya semuanya,” ujarnya. Pertanyaannya, apakah album yang sempat dianggap 'tidak modis' ini akan mendapat sambutan hangat dari pendengar yang sudah menunggu selama 12 tahun?



