Elizabeth Banks: Dari Rasa Tidak Layak Menuju Keyakinan di Puncak Karier
Baca dalam 60 detik
- Aktris dan sutradara Elizabeth Banks mengaku sempat bergulat dengan sindrom penipu selama bertahun-tahun di Hollywood.
- Kini di usia 52, Banks merasa lebih tenang dan optimis menghadapi masa depan industri film yang terus berubah.
- Ia berharap reputasinya sebagai penghibur yang dapat diandalkan menjadi jaminan bagi penonton setianya.

Elizabeth Banks, aktris dan sutradara yang namanya melambung lewat waralaba Pitch Perfect dan The Hunger Games, mengakui bahwa ia pernah dilanda sindrom penipu (impostor syndrome) selama bertahun-tahun. Perasaan tidak layak itu, kata Banks, menghantuinya di awal karier di Hollywood. Namun kini, di usia 52 tahun, ia telah berdamai dengan dirinya sendiri dan memandang masa depan dengan optimisme, meski industri film tengah berada dalam ketidakpastian.
Dalam wawancara dengan Variety, Banks mengungkapkan bahwa perubahan besar di industri film justru membuatnya merasa tertantang sebagai seorang seniman. "Industri ini berubah drastis. Saya merasa ini adalah waktu yang menarik untuk menjadi seorang artis. Saya penasaran ke mana arahnya dan senang bisa ikut dalam perjalanan ini," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan sikap Banks yang tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi dengan dinamika baru di dunia hiburan.
Banks menceritakan perjalanan panjangnya mengatasi sindrom penipu. "Saya dulu merasa seperti penipu untuk waktu yang lama. Sekarang saya berkata pada diri sendiri โ Anda juga akan sampai di sana โ ini benar-benar karier saya. Ini yang saya lakukan untuk mencari nafkah, dan ini adalah hidup saya. Saya sudah lebih tenang, merasa tahu apa yang saya lakukan. Dan saya bisa melihat hal-hal di masa depan," jelasnya. Ia bahkan membayangkan dirinya di usia 70 tahun seperti Elaine Stritch, tampil di Carlyle Hotel, menyanyikan lagu-lagu klasik Amerika, dan menghibur orang dengan lelucon.
Keyakinan baru Banks juga tercermin dalam hubungannya dengan penonton. Ia berharap telah membangun reputasi yang cukup kuat sehingga penonton percaya bahwa menontonnya adalah jaminan hiburan. "Jika Anda menonton saya, saya berjanji akan menghibur Anda. Jika Anda datang, saya akan tampil. Ketika Anda membuat kesepakatan dengan penonton, saya merasa tanda tangan saya pada kesepakatan itu berarti sesuatu," katanya. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran Banks akan pentingnya kepercayaan antara artis dan audiens.
Meski demikian, Banks menegaskan bahwa ia tidak terlalu menganggap serius dirinya sendiri, baik sebagai aktris maupun sutradara. Ia melihat dirinya sebagai bagian dari tradisi panjang para pendongeng yang mewariskan kemanusiaan. "Ada alasan mengapa kita masih membaca karya-karya Yunani dan Shakespeare. Ketika kita pergi ke museum dan melihat seni, itulah seni yang kita wariskan dari generasi ke generasi," ujarnya. Pandangan ini menempatkan Banks dalam perspektif yang lebih luas tentang peran seni dalam masyarakat.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Banks relevan dengan fenomena sindrom penipu yang kerap dialami para profesional muda di berbagai bidang, termasuk industri kreatif Tanah Air. Banyak pekerja seni dan startup yang merasa tidak layak meski telah mencapai prestasi. Pengalaman Banks mengingatkan bahwa rasa tidak percaya diri bisa diatasi dengan waktu, pengalaman, dan penerimaan diri. Di tengah industri hiburan Indonesia yang terus bertumbuh, pesan Banks tentang pentingnya ketekunan dan kepercayaan diri menjadi inspirasi bagi para sineas dan aktor lokal untuk terus berkarya tanpa dibayangi keraguan.
Ke depan, Banks mengaku tidak memiliki rencana spesifik, tetapi ia siap mengikuti arah industri. Pertanyaannya, akankah penonton Indonesia juga memberikan kepercayaan yang sama kepada para artis lokal yang berani tampil beda? Atau justru sindrom penipu masih menjadi momok yang menghambat kreativitas?



