Hellblade Series Berubah Arah: Senua Fokus pada Eksplorasi dan Pertarungan
Baca dalam 60 detik
- Ninja Theory mengumumkan game ketiga Hellblade berjudul Senua, yang akan dirilis tahun depan di Xbox Series, PS5, dan PC.
- Game ini mengedepankan eksplorasi bebas dan teka-teki, dengan sistem pertarungan yang ditingkatkan, serta tidak menggunakan nama Hellblade 3 untuk menandai pengalaman baru.
- Proyek horor Project: Mara resmi dibatalkan karena seluruh sumber daya studio dialihkan ke pengembangan Senua.

Ninja Theory akhirnya memperlihatkan cuplikan pertama game terbaru mereka, Senua, dalam ajang Xbox Games Showcase. Bukan sekadar sekuel biasa, game ini menjadi entri ketiga dalam waralaba Hellblade yang sebelumnya dikenal lewat Hellblade: Senua's Sacrifice dan Senua's Saga: Hellblade II. Dijadwalkan rilis tahun depan di Xbox Series S|X, PS5, dan PC, Senua membawa perubahan signifikan dalam pendekatan desainnya.
Dalam wawancara dengan Xbox, direktur studio Dom Matthews mengungkapkan bahwa game ini akan lebih menekankan kebebasan eksplorasi dan pemecahan teka-teki. Sistem pertarungan juga mendapat penyegaran dengan mekanisme yang lebih kaya dan bervariasi. โKami ingin memenuhi ekspektasi pemain akan game aksi-petualangan, tetapi dengan cara yang berbeda,โ ujar Matthews. Inilah alasan mengapa game ini tidak diberi judul Hellblade 3โsebuah penegasan bahwa pengalaman yang ditawarkan benar-benar baru, bukan sekadar kelanjutan cerita lama.
Keputusan Ninja Theory untuk mengubah arah ini menarik dicermati. Sebelumnya, Hellblade: Senua's Sacrifice (2017) dikenal dengan narasi gelap tentang kesehatan mental dan pertarungan brutal yang linear. Senua's Saga: Hellblade II (2024) masih mempertahankan gaya sinematik dengan sedikit elemen eksplorasi. Kini, Senua justru mengadopsi formula yang lebih terbuka, mengingatkan pada game aksi-petualangan klasik seperti Tomb Raider atau God of War (2018). Perubahan ini bisa menjadi strategi untuk menjangkau basis pemain yang lebih luas, sekaligus membuktikan bahwa Ninja Theory tidak takut bereksperimen.
Kabar lain yang mengejutkan adalah pembatalan Project: Mara, game horor eksperimental yang diumumkan pada 2020. Proyek tersebut digambarkan sebagai โsimulasi psikologisโ yang mengeksplorasi trauma, namun kini dihentikan karena sumber daya studio sepenuhnya dialihkan ke Senua. Matthews menegaskan bahwa fokus penuh pada satu proyek adalah keputusan terbaik untuk menghasilkan kualitas maksimal.
Bagi gamer di Indonesia, perubahan arah ini patut diperhatikan. Pasar game aksi-petualangan di Tanah Air terus tumbuh, dengan judul seperti God of War Ragnarok dan Horizon Forbidden West yang laris manis. Senua dengan pendekatan eksplorasi dan pertarungan yang lebih terbuka berpotensi menarik minat pemain yang sebelumnya mungkin ragu dengan gaya linear Hellblade. Apalagi, dukungan bahasa Indonesia pada game AAA semakin umum, membuka akses lebih luas bagi komunitas lokal.
Pertanyaan besarnya: apakah perubahan formula ini akan berhasil? Ninja Theory telah membuktikan kemampuan mereka dalam menyajikan narasi yang kuat dan visual memukau. Namun, persaingan di genre aksi-petualangan sangat ketat. Dengan rilis yang masih setahun lagi, para penggemar tentu berharap Senua tidak hanya menjadi eksperimen, tetapi juga sebuah mahakarya yang layak dinantikan.



