Wall Street dan Bursa Eropa Terpuruk: Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga AS Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham global kompak melemah pada akhir pekan lalu, dipimpin oleh NASDAQ yang ambles 4,18% akibat aksi jual besar-besaran di saham teknologi.
- Ketegangan geopolitik usai serangan rudal Iran ke Israel dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendorong investor beralih ke aset aman.
- Bursa Asia ikut terseret, dengan Nikkei turun hampir 4%, sementara harga minyak mentah Brent melonjak dan memberi tekanan tambahan pada pasar negara berkembang.

Pasar saham global ditutup dengan nada bearish pada akhir pekan lalu, ketika indeks utama di Wall Street, Eropa, dan Asia kompak melemah akibat kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sinyal kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang semakin kuat. Indeks NASDAQ memimpin koreksi dengan anjlok 4,18%, disusul S&P 500 yang turun 2,64%, dan Dow Jones yang melemah 1,35%. Aksi jual besar-besaran terjadi di sektor teknologi, dengan saham Micron ambles 13,3% dan Nvidia merosot 6,2%.
Di Eropa, Euro Stoxx 50 terkoreksi 0,68%, sementara FTSE 100 nyaris tak bergerak dengan kenaikan tipis 0,07%. Pasar regional bergulat dengan perubahan selera risiko global yang dipicu oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Menurut catatan pagi First National Bank, data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikkan suku bunga lagi tahun ini, memicu repricing ekspektasi suku bunga di seluruh dunia.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel, semakin menekan sentimen dan mendorong harga minyak mentah Brent melonjak tajam. Dampaknya terasa hingga kawasan Asia-Pasifik: indeks Hang Seng turun 1,18%, Nikkei 225 ambles 3,98%, dan ASX 200 melemah 0,70%. Bursa saham Johannesburg (JSE) diperkirakan akan dibuka lebih rendah pada perdagangan berikutnya, mengikuti pelemahan futures global dan tekanan di Asia.
Di dalam negeri, bursa saham Indonesia juga tidak luput dari tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,85% pada perdagangan Jumat, sejalan dengan sentimen negatif global. Sektor teknologi dan komoditas menjadi pemberat utama, sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih. Analis memperkirakan volatilitas masih akan berlanjut dalam pekan ini, mengingat belum ada tanda-tanda meredanya konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.
Koreksi di bursa global juga berdampak pada saham-saham berkapitalisasi besar Asia. Saham Tencent ambles 1,06%, memberikan sentimen negatif bagi Naspers dan Prosus yang memiliki porsi kepemilikan signifikan di raksasa teknologi China tersebut. Sementara itu, indeks ASX 300 Metals and Mining yang turun 2,47% menjadi pertanda buruk bagi sektor sumber daya lokal. Harga emas dan platinum yang lebih lunak berpotensi membebani emiten tambang logam mulia, meskipun rebound tajam harga minyak mentah Brent memberikan sedikit dukungan bagi saham energi.
Di Afrika Selatan, bursa JSE ditutup mayoritas melemah meskipun ada kabar positif dari Fitch Ratings yang menaikkan peringkat utang valas jangka panjang negara itu dari BB- menjadi BB, dengan alasan pengelolaan fiskal yang hati-hati dan kemajuan konsolidasi fiskal. Indeks JSE All Share turun 1,05% dan Top 40 melemah 1,15%, menandai hari ketiga berturut-turut penurunan. Sektor sumber daya menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 4,35%, dipimpin oleh saham Valterra Platinum yang ambles 8,5%. Sementara itu, sektor industri dan keuangan berhasil ditutup di zona hijau dengan kenaikan masing-masing 0,78% dan 0,41%.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini serta perkembangan terbaru di Timur Tengah. Jika ketegangan terus meningkat dan data ekonomi AS tetap kuat, tekanan jual di pasar saham global berpotensi berlanjut. Pertanyaan besarnya: akankah bank sentral di negara berkembang, termasuk Bank Indonesia, ikut menyesuaikan kebijakan moneternya untuk mengantisipasi arus modal keluar?



