SEGA Dikabarkan Garap Konsol Genggam Murah Khusus Game 2D
Baca dalam 60 detik
- SEGA disebut tengah mengembangkan perangkat genggam berprosesor ARM dengan layar OLED 5 inci yang hanya mendukung game 2D bergaya pixel art.
- Konsol ini dibanderol murah dan menggunakan media kartrid, namun rumor masih perlu diverifikasi karena proyek bisa saja batal.
- Jika terealisasi, perangkat ini berpotensi mengisi ceruk pasar yang selama ini diabaikan oleh raksasa seperti Nintendo dan Sony.

SEGA, perusahaan game legendaris asal Jepang, dikabarkan tengah menjajaki pengembangan konsol genggam baru yang menyasar segmen spesifik: perangkat murah khusus untuk game 2D bergaya pixel art. Informasi ini muncul dari pernyataan mitra bisnis yang pernah bekerja sama dengan SEGA, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak perusahaan.
Menurut laporan yang beredar, konsol tersebut akan ditenagai prosesor ARM berdaya rendah—bukan arsitektur x86—dan dibekali layar OLED berukuran 5 inci. Dimensinya diperkirakan mirip dengan PlayStation Vita, dengan kapasitas penyimpanan internal yang sangat terbatas. Media penyimpanan game direncanakan menggunakan kartrid yang dapat dilepas, mengingatkan pada era konsol portabel klasik.
Yang membedakan perangkat ini dari kompetitor adalah fokusnya yang sempit: hanya mampu menjalankan game 2D modern dengan estetika pixel art. Langkah ini bisa menjadi strategi SEGA untuk mengisi celah pasar yang ditinggalkan oleh konsol genggam mainstream seperti Nintendo Switch atau Steam Deck, yang cenderung mendukung game 3D berat dengan harga lebih tinggi.
Bagi pasar Indonesia, kabar ini menarik mengingat basis penggemar game retro dan indie yang terus tumbuh. Komunitas penggemar SEGA di Tanah Air, misalnya, masih aktif mengoleksi game lawas melalui emulator atau perangkat keras original. Jika konsol ini benar-benar dirilis dengan harga terjangkau—diperkirakan di bawah Rp 2 juta—ia bisa menjadi alternatif menarik dibandingkan membeli konsol bekas atau bergantung pada emulasi di ponsel.
Namun, perlu diingat bahwa rumor ini masih sangat awal. Sumber menyebutkan proyek tersebut belum tentu terealisasi, mengingat sejarah SEGA yang beberapa kali membatalkan rencana perangkat keras setelah kegagalan Dreamcast. Analis industri menilai SEGA mungkin ingin menguji pasar terlebih dahulu melalui kemitraan dengan pengembang game indie sebelum memutuskan produksi massal.
Pertanyaan besarnya: akankah SEGA benar-benar kembali ke bisnis perangkat keras setelah bertahun-tahun hanya menjadi pengembang perangkat lunak? Ataukah ini hanya sekadar eksperimen yang tidak akan pernah sampai ke tangan konsumen? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam satu hingga dua tahun ke depan.



