Le Sserafim Bangkit dari Konflik Internal dan Hujatan Warganet
Baca dalam 60 detik
- Girl group K-pop Le Sserafim mengatasi perselisihan internal dan kampanye kebencian daring dengan merilis album baru yang mengangkat tema rekonsiliasi.
- Lagu 'Need Your Company' secara gamblang mengungkap friksi antara anggota Huh Yunjin dan Kim Chaewon, yang kemudian diselesaikan melalui komunikasi terbuka.
- Kesuksesan album terbaru, termasuk single viral 'Boompala', menandai fase baru grup yang lebih percaya diri dan humoris, dengan tur dunia dimulai Juli 2025.

Le Sserafim, girl group asal Korea Selatan, membuktikan bahwa konflik internal dan serangan daring bukanlah akhir dari perjalanan mereka. Lewat album terbaru yang sarat akan introspeksi, grup yang debut pada 2022 ini justru berhasil memperkuat ikatan dan meraih pencapaian baru di industri musik global.
Album yang dirilis belum lama ini menyimpan sebuah kejutan: lagu berjudul Need Your Company yang secara terang-terangan mengisahkan ketegangan antara Huh Yunjin, anggota kelahiran New York, dan Kim Chaewon. Dalam liriknya, mereka menyanyikan keraguan akan persahabatan dan rasa sakit karena pengkhianatan. Yunjin mengungkapkan bahwa lagu tersebut lahir dari keinginan untuk membahas emosi rumit ketika ingin dekat dengan seseorang namun sulit mengakuinya. Chaewon, yang absen dalam wawancara karena cedera leher, menegaskan bahwa konflik tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan komunikasi, bukan permusuhan pribadi. Ia mengakui bahwa ada masa penyesuaian, dan setelah berbicara terbuka, hubungan mereka justru semakin erat—bahkan sampai melakukan bungee jumping tandem setinggi 233 meter di Makau.
Perjalanan Le Sserafim tidaklah mulus. Mereka sempat menjadi sasaran kampanye kebencian daring yang menyerang vokal, penampilan, hingga keluarga. Sebuah dokumenter tahun 2024 memperlihatkan dampaknya, termasuk tangisan Sakura yang mengaku tak pernah mengalami kebencian sehebat itu di grup sebelumnya. Namun, dari tekanan tersebut, mereka justru melahirkan karya yang lebih berani dan eksperimental. Lagu Crazy (2024) mengadopsi budaya ballroom New York, sementara Come Over (2025) diproduseri oleh grup dance asal Inggris, Jungle. PinkPantheress, yang berkolaborasi dalam remix Crazy, menyebut musik mereka jauh di depan zamannya.
Bagi penggemar K-pop di Indonesia, kisah Le Sserafim memberikan pelajaran berharga tentang resiliensi. Industri hiburan Tanah Air juga kerap diwarnai perpecahan grup dan perundungan siber. Langkah Le Sserafim yang secara terbuka mengakui masalah dan menyelesaikannya melalui musik bisa menjadi contoh bagi artis lokal. Apalagi, grup ini menunjukkan bahwa kritik dapat dijawab dengan karya—seperti dalam lagu Spaghetti yang sarkastis menantang para pembenci. Keberhasilan mereka membuktikan bahwa transparansi dan humor bisa menjadi senjata ampuh melawan toksisitas daring.
Fase baru Le Sserafim ditandai dengan perubahan definisi 'keberanian' mereka. Sakura menjelaskan, jika dulu 'tidak takut' berarti bebas dari rasa takut, kini mereka justru merangkul ketakutan sebagai bahan bakar. Single terbaru Boompala yang menyampel lagu Macarena menjadi bukti—meski terdengar mustahil, lagu itu viral berkat koreografi unik Chaewon yang menyelinap menari saat meditasi. Album yang diberi judul Part 1 ini mengisyaratkan masih akan ada kelanjutan. Yunjin, yang menulis sebagian besar lagu, mengaku mewawancarai anggota lain untuk menangkap perasaan mereka. Hasilnya adalah album yang merayakan solidaritas dan persaudaraan.
Tur dunia kedua mereka akan dimulai Juli 2025, termasuk konser perdana di London pada 16 Oktober. Eunchae menjanjikan pesta visual dan auditori yang lebih meriah dari tur sebelumnya. Pertanyaannya, mampukah Le Sserafim mempertahankan momentum ini dan terus menginspirasi generasi baru untuk tidak menyerah pada tekanan? Jika konsistensi dan kreativitas menjadi tolok ukur, jawabannya tampak positif.



