Paul McCartney: Saya Bukan Workaholic, Melainkan Playaholic
Baca dalam 60 detik
- Legenda The Beatles, Paul McCartney, menolak label workaholic dan menciptakan istilah playaholic untuk menggambarkan kecintaannya pada musik.
- Dalam wawancara dengan Apple Music, McCartney bercanda bahwa produser Brian Eno 'mencuri' ide-idenya, termasuk soal tape loops dan konsep playtime.
- McCartney juga mengungkapkan tidak menyesali bubarnya The Beatles, karena ia menghormati pilihan John Lennon untuk menjalani hidup bersama Yoko Ono.

Paul McCartney, legenda hidup The Beatles yang kini berusia 83 tahun, menolak keras cap workaholic yang kerap disematkan padanya. Dalam wawancara eksklusif dengan Zane Lowe untuk Apple Music, ia justru memperkenalkan istilah baru: playaholic. Menurut McCartney, bermusik bukanlah pekerjaan, melainkan permainan yang menyenangkan. “Orang bilang, ‘Oh, kamu workaholic.’ Saya jawab, ‘Kami tidak bekerja dengan musik, kami memainkannya. Jadi saya playaholic!’” ujarnya sambil tertawa.
Pernyataan itu muncul saat McCartney merenungkan produktivitasnya yang luar biasa selama puluhan tahun. Ia menegaskan bahwa ia benci jika membuat musik terasa seperti kerja. “Begitu terasa seperti kerja, saya tidak suka,” katanya. Sikap ini menjadi kunci mengapa ia tetap aktif berkarya hingga kini, tanpa pernah merasa lelah secara kreatif.
Menariknya, dalam wawancara yang sama, Lowe menyinggung bahwa produser musik Brian Eno baru-baru ini melontarkan komentar yang hampir identik. McCartney pun bereaksi dengan nada bercanda, menuduh Eno telah “mencuri” ide playtime darinya. “Saya lihat wawancaramu dengan Brian Eno, dia bicara soal ‘playtime’. Saya pikir, ‘Dia mencurinya, dia pasti dengar saya bilang begitu!’ Karena saya selalu mengatakan itu!” ledek McCartney.
Perseteruan ringan ini berlanjut ketika McCartney mendengar Eno juga membahas tape loops—teknik menyambung ujung pita magnetik untuk menciptakan putaran suara berkelanjutan. McCartney, yang menggunakan teknik serupa dalam lagu The Beatles “Tomorrow Never Knows”, berseru, “Brian! Kau mencuri semua ideku! ‘Tomorrow Never Knows’ sudah ada sebelum kau lahir!” Lowe pun berkelakar bahwa ini adalah “pertarungan selebriti” yang serius. McCartney, dengan nada mengancam palsu, menatap kamera dan berkata, “Jika kau dengar, Brian!”
Di bagian lain wawancara, Lowe bertanya apakah McCartney menyesal tidak pernah bersatu kembali dengan anggota The Beatles untuk membuat musik lagi setelah perpisahan mereka. McCartney menjawab dengan tegas, “Kami tahu sudah selesai. Semua sepakat ini lingkaran penuh, ini luar biasa.” Ia menambahkan bahwa John Lennon saat itu tengah menjalani hidup bersama Yoko Ono, dan ia tidak akan pernah memintanya kembali. “Saya bisa melihat apa yang dia lakukan, itu kehidupan yang berbeda. Saya juga begitu dengan Linda,” kenangnya.
McCartney juga menyinggung spekulasi bahwa Yoko Ono bertanggung jawab atas bubarnya The Beatles. John dan Yoko bertemu di galeri seni pada 1966, menjalin hubungan, dan menikah pada 1969. Setahun kemudian, The Beatles mengumumkan perpisahan mereka. Namun, McCartney menolak menyalahkan Yoko. Baginya, setiap anggota band memiliki jalannya masing-masing. Ia sendiri menikah dengan Linda McCartney selama 29 tahun hingga Linda meninggal karena kanker payudara pada 1998.
Bagi penggemar The Beatles di Indonesia, wawancara ini menjadi pengingat bahwa kreativitas sejati lahir dari kegembiraan, bukan paksaan. McCartney membuktikan bahwa usia bukan halangan untuk terus bermain—dalam arti sesungguhnya. Pertanyaannya, mampukah musisi Indonesia meniru semangat playaholic ini di tengah tekanan industri yang kerap mengedepankan komersialisasi?



