Ritual Mandi ala Nadal: Rahasia Cobolli Menuju Final Grand Slam?
Baca dalam 60 detik
- Flavio Cobolli mengalahkan unggulan keempat Felix Auger-Aliassime untuk mencapai semifinal Grand Slam pertamanya.
- Petenis Italia itu mengaku menggunakan kamar mandi favorit Rafael Nadal sebagai bagian dari ritual superstitinya.
- Kemenangan ini memastikan adanya finalis Italia di Prancis Terbuka 2025 setelah kejutan tersingkirnya Jannik Sinner.

Flavio Cobolli hanya butuh dua kemenangan lagi untuk merebut gelar Grand Slam pertamanya di Prancis Terbuka, dan ia melakukan segala cara—termasuk menggunakan kamar mandi yang biasa dipakai Rafael Nadal di Roland Garros.
Petenis Italia berusia 24 tahun itu menyingkirkan unggulan keempat asal Kanada, Felix Auger-Aliassime, dalam empat set (4-6, 6-4, 6-4, 6-4) untuk mencapai semifinal major untuk pertama kalinya. Kemenangan ini sekaligus menjadi yang pertama bagi Cobolli atas lawan peringkat 10 besar di turnamen besar.
Cobolli mengaku memiliki sejumlah ritual superstiti selama turnamen. Dalam konferensi pers, ia mengungkapkan bahwa ia selalu pergi ke restoran yang sama, memesan menu yang sama, dan menggunakan kamar mandi yang sama. Ia lalu bercerita tentang pengalaman di Prancis Terbuka sebelumnya ketika Nadal mengetuk pintu kamar mandi dan memintanya cepat-cepat karena ia ingin menggunakan bilik tersebut. “Dia bilang itu kamar mandinya sejak 14 tahun,” ujar Cobolli. “Jadi saya pikir hal terbaik yang saya lakukan adalah mandi di sana.”
Pertandingan berlangsung dalam kondisi angin kencang di Court Philippe Chatrier pada set pertama. Auger-Aliassime memanfaatkan situasi untuk merebut set pertama 6-4. Setelah atap ditutup, kondisi membaik, namun Cobolli sempat tertinggal break di set kedua sebelum memenangkan empat game beruntun untuk menyamakan kedudukan. “Saya pikir kami memainkan dua pertandingan berbeda hari ini,” kata Cobolli. “Set pertama sangat berangin dan sulit dimainkan. Saya ke toilet untuk berpikir, mencoba mengubah sesuatu. Saya bilang pada diri sendiri untuk bertarung, ini kesempatan hidup saya.”
Kemenangan Cobolli memastikan adanya wakil Italia di final setelah kejutan tersingkirnya favorit utama Jannik Sinner di putaran kedua dan cedera Lorenzo Musetti. Di semifinal lain, unggulan kedua Alexander Zverev akan menghadapi Jakub Mensik. Dengan tersingkirnya Auger-Aliassime, hanya Cobolli dan Zverev yang tersisa sebagai unggulan 10 besar di undian putra.
Bagi penggemar tenis Indonesia, perjalanan Cobolli menjadi cerita menarik tentang bagaimana ritual dan kepercayaan diri dapat mendorong seorang petenis muda melampaui ekspektasi. Meski tidak ada pemain Indonesia di turnamen ini, kesuksesan Italia—negara dengan tradisi tenis yang kuat—bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan tenis di tanah air. Pertanyaan besarnya: mampukah Cobolli mempertahankan ritme dan ritualnya hingga lift trofi?



