GameStop Raup Pendapatan Naik 14%, Siapkan Buyback Rp31 Triliun dan Lanjutkan Akuisisi eBay
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan GameStop naik 14% menjadi US$835,3 juta di kuartal I-2025, didorong penjualan kartu koleksi dan barang dagangan.
- Dewan direksi menyetujui program pembelian kembali saham senilai US$2 miliar yang berlaku hingga 2029, menggantikan program sebelumnya.
- CEO Ryan Cohen tetap ngotot mengakuisisi eBay meski tawaran US$56 miliar ditolak, dengan meningkatkan kepemilikan saham menjadi 6,6%.
Pendapatan GameStop melonjak 14 persen pada kuartal pertama tahun fiskal 2025, menandai keberhasilan transformasi bisnis dari pengecer gim video tradisional menjadi pedagang barang koleksi dan kartu dagang. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi perusahaan di tengah pergeseran konsumen ke unduhan digital.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Selasa (2/6), GameStop mencatat penjualan bersih sebesar US$835,3 juta untuk periode yang berakhir 2 Mei 2025, naik dari US$732,4 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih melonjak menjadi US$389,6 juta, dibandingkan US$44,8 juta setahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama ditopang oleh permintaan kuat terhadap kartu perdagangan dan barang koleksi, seiring peralihan strategi perusahaan dari perangkat keras gim ke produk bernilai tambah tinggi.
Sejalan dengan kinerja positif, dewan direksi GameStop menyetujui program pembelian kembali saham (buyback) senilai US$2 miliar (sekitar Rp31 triliun) yang akan berlaku hingga 2 Juni 2029. Program ini menggantikan otorisasi sebelumnya yang diberikan pada Maret 2019. Pengumuman tersebut mendorong harga saham GameStop melonjak 7,4 persen dalam perdagangan setelah jam bursa.
Di luar kinerja keuangan, perhatian pasar juga tertuju pada ambisi GameStop mengakuisisi eBay. Setelah tawaran awal senilai US$56 miliar ditolak bulan lalu, CEO Ryan Cohen justru meningkatkan kepemilikan saham GameStop di eBay dari sekitar 5 persen menjadi 6,6 persen. Cohen menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan akuisisi dan tidak menutup kemungkinan membawa tawaran langsung kepada pemegang saham eBay jika negosiasi dengan manajemen gagal.
eBay, yang nilai pasarnya sekitar lima kali lipat GameStop, menolak proposal tersebut dengan menyebutnya "tidak kredibel maupun menarik." Namun Cohen berargumen bahwa penggabungan kedua perusahaan dapat menciptakan sinergi besar, memangkas biaya, dan membentuk entitas yang jauh lebih besar. Langkah ini mengingatkan pada strategi agresif Cohen yang sebelumnya sukses mendorong transformasi GameStop melalui fenomena "meme stock" pada 2021.
Bagi pelaku pasar Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat eBay masih menjadi platform e-commerce lintas batas yang digunakan oleh banyak eksportir dan UMKM Tanah Air. Jika akuisisi berhasil, struktur kepemilikan eBay akan berubah dan berpotensi memengaruhi kebijakan platform terhadap pedagang global, termasuk dari Indonesia. Selain itu, strategi GameStop yang beralih ke barang koleksi fisik bisa menjadi pelajaran bagi perusahaan ritel lokal yang menghadapi tekanan digitalisasi.
Kendati demikian, tantangan integrasi dan perbedaan skala antara GameStop dan eBay masih menjadi batu sandungan. Analis memperkirakan Cohen mungkin harus menaikkan tawaran atau mencari pendanaan tambahan untuk meyakinkan pemegang saham eBay. Pertanyaan besarnya: akankah strategi berani ini kembali menuai sukses seperti transformasi GameStop sebelumnya, atau justru menjadi langkah yang terlalu ambisius?


