Penjualan Gim Eksklusif PlayStation Anjlok 45% dalam Lima Tahun, Sony Terjepit di Antara Eksklusivitas dan Tekanan Pasar
Baca dalam 60 detik
- Penjualan gim first-party PlayStation turun drastis dari 58,4 juta unit (2020-2021) menjadi 32,1 juta unit (2025-2026), menyusut 45%.
- Kegagalan judul seperti Concord dan Saros, serta penutupan studio, memperparah kinerja divisi gim Sony.
- Keputusan Sony mempertahankan eksklusivitas PS5 untuk gim single-player berpotensi mengorbankan pendapatan dari pasar PC yang sedang tumbuh.

Penjualan gim buatan studio internal PlayStation mengalami penurunan paling tajam dalam satu dekade terakhir. Data yang dikumpulkan oleh situs Game File menunjukkan bahwa antara April 2025 dan Maret 2026, Sony hanya berhasil menjual 32,1 juta kopi gim first-party di seluruh dunia โ anjlok 45% dibandingkan periode puncak 2020-2021 yang mencapai 58,4 juta unit.
Periode keemasan itu ditopang oleh sederet judul blockbuster: Ghost of Tsushima, The Last of Us Part II, serta lini peluncuran PS5 yang mencakup Demonโs Souls dan Marvelโs Spider-Man: Miles Morales. Kini, gemanya nyaris tak terdengar. Meski ada sedikit kenaikan 3,2 juta unit dari tahun fiskal sebelumnya, angka tersebut tetap menjadi titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Penurunan ini tidak berdiri sendiri. Sony juga mencatat sederetan kegagalan komersial seperti Concord dan Saros, yang mendapat sambutan dingin dari kritikus maupun pemain. Lebih dari itu, raksasa elektronik Jepang itu membatalkan sejumlah proyek ambisius dan menutup beberapa studio pengembang, termasuk London Studio yang telah beroperasi puluhan tahun. Studio-studio papan atas seperti Naughty Dog, Media Molecule, dan Bend Studio belum merilis satu pun gim baru untuk PS5 sejak konsol tersebut diluncurkan.
Di tengah tekanan ini, Sony justru mengambil langkah kontroversial: menjauh dari platform PC. Perusahaan menegaskan bahwa gim-gim single-player mendatang akan tetap menjadi eksklusif PS5, membalikkan tren sebelumnya yang mulai merambah pasar PC dengan port Horizon Zero Dawn dan God of War. Keputusan ini berpotensi mengorbankan jutaan pendapatan dari ekosistem PC yang terus tumbuh, terutama di kawasan Asia dan Eropa.
Bagi pasar Indonesia, situasi ini patut dicermati. PlayStation masih menjadi konsol dominan di Tanah Air, dengan basis penggemar yang loyal terhadap judul-judul eksklusif. Namun, jika Sony terus kehilangan momentum kreatif dan komersial, gamer Indonesia mungkin akan beralih ke platform lain โ termasuk PC dan Nintendo Switch โ yang menawarkan lebih banyak variasi gim orisinal. Belum lagi kehadiran layanan cloud gaming yang mulai merambah Asia Tenggara.
Menurut analis industri, akar masalah bukan hanya pada kualitas gim, tetapi juga pada strategi akuisisi dan retensi bakat. โSony telah kehilangan sejumlah talenta kunci dalam beberapa tahun terakhir, dan siklus pengembangan gim AAA yang semakin panjang membuat mereka sulit bersaing dengan penerbit yang lebih gesit,โ ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah jajaran gim mendatang seperti Marvelโs Wolverine atau Death Stranding 2 mampu membalikkan keadaan? Atau justru Sony harus merelakan eksklusivitas demi menyelamatkan lini bisnis gimnya? Jawabannya akan menentukan apakah PlayStation tetap menjadi raja konsol atau mulai kehilangan singgasananya.



