Australia Perpanjang Pelepasan Cadangan BBM, Dampak Perang Iran Mulai Terasa
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Australia memperpanjang hingga September kebijakan yang memungkinkan perusahaan bahan bakar melepas 762 juta liter bensin dan solar dari cadangan domestik.
- Langkah ini diambil untuk mengatasi dampak konflik Iran terhadap rantai pasok energi global yang masih ketat.
- Cadangan BBM Australia saat ini berada pada level tertinggi sejak perang Iran pecah, namun tekanan pasokan diperkirakan berlanjut.
Pemerintah Australia kembali memperpanjang kebijakan darurat yang memungkinkan perusahaan bahan bakar melepas bensin dan solar dari cadangan domestik, sebagai respons terhadap ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik Iran yang berkepanjangan.
Menteri Energi Australia, Chris Bowen, mengumumkan perpanjangan tersebut pada Sabtu (30/5). Kebijakan ini pertama kali diberlakukan pada Maret lalu untuk mengatasi kekurangan bahan bakar, terutama di daerah terpencil. Awalnya, aturan itu akan berakhir pada Juli, namun kini diperpanjang hingga September mendatang.
Melalui mekanisme ini, perusahaan bahan bakar mendapatkan keringanan kewajiban penyimpanan stok minimum sebesar 20 persen. Langkah itu membebaskan hingga 762 juta liter bensin dan solar untuk segera diedarkan ke pasar. Menurut Bowen, keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi rantai pasok global yang masih sangat ketat.
"Saya memutuskan bahwa memberikan fleksibilitas berkelanjutan adalah langkah terbaik," ujar Bowen dalam pernyataan yang disiarkan televisi.
Konflik Iran yang meletus sejak Februari telah mengganggu jalur pasokan minyak global, memicu lonjakan harga dan kekhawatiran akan kelangkaan di berbagai negara. Australia, yang sangat bergantung pada impor bahan bakar, menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampaknya. Kebijakan pelepasan cadangan ini dinilai sebagai langkah taktis untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah tekanan geopolitik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia juga menghadapi risiko serupa jika konflik Iran meluas. Kenaikan harga minyak dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk menyesuaikan anggaran subsidi energi. Langkah Australia menunjukkan bahwa negara-negara mulai mengandalkan cadangan strategis sebagai bantalan, sebuah strategi yang mungkin perlu dipertimbangkan lebih serius oleh Jakarta.
Bowen menegaskan bahwa cadangan Australia saat ini berada pada level tertinggi sejak perang Iran pecah, dan ia menyebutnya sebagai pencapaian "luar biasa" di tengah tekanan rantai pasok. Namun, perpanjangan kebijakan ini mengindikasikan bahwa pemulihan pasokan global masih jauh dari normal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara lain akan mengikuti langkah Australia, atau justru memperketat kebijakan ekspor mereka. Dengan ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda, ketahanan energi menjadi isu krusial yang akan terus memengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia.



