Remaja Ajaib Littler Kembali ke Puncak: Kalahkan Humphries di Final Premier League Darts
Baca dalam 60 detik
- Luke Littler menaklukkan Luke Humphries 11-10 dalam final Premier League Darts 2026 di hadapan 16.000 penonton, membalas kekalahan tahun lalu.
- Pemain 19 tahun itu nyaris pensiun setelah awal musim yang buruk, namun bangkit dan kini mengoleksi tujuh dari delapan gelar ranking PDC.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Littler di dunia darts, dengan hadiah total ยฃ410.000 dan rekor rata-rata 111 di final.

Luke Littler, juara dunia darts berusia 19 tahun, kembali menegaskan dominasinya dengan merebut gelar Premier League setelah mengalahkan Luke Humphries dalam final dramatis 11-10 di The O2, London. Pertandingan yang disaksikan 16.000 penonton itu menjadi salah satu final terbaik dalam sejarah kompetisi, di mana Littler menuntaskan dendam atas kekalahannya di edisi sebelumnya.
Pertarungan antara dua pemain Inggris ini berlangsung sengit sejak leg pertama. Littler mencatat rata-rata 111 dan 12 kali maksimum 180, sementara Humphries, yang berada di peringkat dua dunia, membukukan rata-rata 105 dengan tiga kali checkout di atas 100. Keduanya saling bergantian memimpin, hingga akhirnya Littler memanfaatkan kesalahan Humphries di leg penentuan untuk menancapkan double 20 dan memastikan kemenangan.
Kemenangan ini terasa istimewa bagi Littler, yang sempat mengalami masa sulit di awal turnamen. "Empat pekan pertama saya berada di dasar klasemen. Saya bahkan sempat berpikir untuk berhenti," ujarnya dengan mata berkaca-kaca di atas panggung. Ia mengaku sempat berbicara dengan pasangannya, Faith, tentang keinginan mundur setelah insiden di Manchester. Namun, dari titik terendah itulah ia bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya.
Perjalanan Littler menuju final tidaklah mudah. Di semifinal, ia harus menghadapi Gerwyn Price yang tampil garang. Price sempat membalikkan keadaan dengan memenangkan lima leg beruntun, termasuk tiga checkout 100+, dan memaksa pertandingan ke leg penentu. Namun, Littler tetap tenang dan mengamankan kemenangan dengan 180 dan double 16. Sementara itu, di semifinal lain, Humphries harus berjuang keras melawan Jonny Clayton. Setelah tertinggal, Humphries menyamakan kedudukan dengan checkout 121 yang spektakuler, lalu memenangkan leg penentu untuk melaju ke final.
Bagi penggemar darts di Indonesia, prestasi Littler menjadi inspirasi bahwa usia muda bukanlah halangan untuk mendominasi olahraga yang membutuhkan ketepatan dan mental baja. Meskipun darts belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola di Tanah Air, kesuksesan Littler bisa mendorong minat terhadap olahraga ini, terutama dengan siaran langsung turnamen PDC yang semakin mudah diakses melalui platform streaming.
Dengan kemenangan ini, Littler tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemain nomor satu dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa ia mampu bangkit dari keterpurukan. Pertanyaan selanjutnya adalah: mampukah ia mempertahankan dominasi ini di Kejuaraan Dunia mendatang, atau akankah Humphries kembali memberikan perlawanan sengit? Yang jelas, rivalitas kedua pemain ini telah menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah darts modern.

