Luke Littler Hampir Hengkang dari Premier League Darts, Lalu Menangis di Panggung O2
Baca dalam 60 detik
- Luke Littler nyaris mundur dari Premier League Darts setelah mengalami tekanan mental dari sorakan negatif penonton sepanjang musim.
- Remaja 19 tahun itu akhirnya mempertahankan gelar juara setelah mengalahkan Luke Humphries 11-10 di final yang dramatis.
- Kemenangan ini menambah daftar panjang prestasi Littler, yang kini menguasai tujuh dari delapan gelar ranking PDC.

Luke Littler, pebintang darts berusia 19 tahun, nyaris mengundurkan diri dari Premier League Darts di tengah musim karena tekanan mental dari sorakan dan ejekan penonton. Namun, pada Kamis malam di The O2, London, ia justru tampil sebagai juara setelah mengalahkan Luke Humphries 11-10 dalam salah satu final terbaik sepanjang sejarah. Air matanya tumpah saat trofi diangkat, menandai pelepasan emosi yang telah lama tertahan.
Littler, yang kini menjadi juara dunia nomor satu, mengakui bahwa musim ketiganya di Premier League adalah yang paling berat. Insiden di Manchester pada pekan kesembilan menjadi titik balik, ketika ia terlibat argumen dengan Gian van Veen setelah pertandingan. Van Veen menuduh Littler merayakan kegagalan lawan, sementara Littler membalas dengan gestur yang dianggap tidak sportif. Ketegangan berlanjut di Brighton, di mana ia tersingkir di perempat final dengan rata-rata skor hanya 84, jauh di bawah standarnya.
“Setelah Brighton, saya pulang dan berkata pada Faith [pasangannya], ‘Saya tidak ingin melakukannya lagi, penonton setiap minggu seperti ini’,” ujar Littler kepada Sky Sports seusai pertandingan. Sorakan negatif terus menghantuinya di Rotterdam, Liverpool, dan Leeds, sebagian karena dukungannya terhadap Manchester United. Littler menyebut sambutan di Rotterdam sebagai “yang terburuk yang pernah saya alami” dan mengaku kini hanya “mengharapkan yang terburuk” dari penonton.
Namun, di malam final, segalanya berubah. Penonton O2 yang sebelumnya mencemooh justru memberikan tepuk tangan meriah saat Littler menangis di atas panggung. Ia berharap momen ini menjadi titik balik hubungannya dengan publik. “Saya tidak minta simpati. Saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan selama Premier League. Hasil terbesar ada di samping saya [trofi],” katanya dalam konferensi pers.
Analis Sky Sports, Wayne Mardle, membandingkan tekanan yang dialami Littler dengan yang dirasakan mantan juara dunia Gerwyn Price dan Phil Taylor. “Premier League adalah ujian ketahanan minggu demi minggu. Ketika Anda merasa seperti musuh nomor satu publik, Anda bisa kehilangan motivasi. Tapi Littler tetap tampil dan inilah hasilnya,” ujar Mardle. Ia menambahkan bahwa level permainan Littler saat ini sebanding dengan masa puncak Michael van Gerwen dan Phil Taylor.
Bagi penggemar darts di Indonesia, kisah Littler menjadi pengingat bahwa tekanan mental adalah tantangan nyata dalam olahraga profesional. Meski darts belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola di Tanah Air, prestasi Littler menunjukkan bahwa ketangguhan mental sama pentingnya dengan keterampilan teknis. Ke depannya, Littler akan berpasangan dengan Humphries untuk membela Inggris di Piala Dunia Darts Juni mendatang. Jika performa mereka seperti di final Premier League, tak ada yang mustahil.

