Gareth Edwards vs Spielberg: Dua Kutub Pandangan Sutradara soal AI di Industri Film
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Gareth Edwards melihat AI sebagai alat revolusioner setara kamera, bahkan lebih unggul dari CGI, dan optimistis dampaknya pada industri film.
- Steven Spielberg justru skeptis, menolak AI menggantikan peran kreatif manusia, dan menekankan bahwa jiwa tidak bisa dialgoritmakan.
- Perdebatan ini mencerminkan dilema global yang juga relevan bagi sineas Indonesia: antara efisiensi teknologi dan nilai artistik otentik.

Dua sutradara kelas dunia, Gareth Edwards dan Steven Spielberg, kini berada di kutub berseberangan dalam memandang kecerdasan buatan (AI) di industri film. Edwards, yang baru saja menyutradarai Jurassic World Rebirth, menyambut AI dengan antusiasme tinggi, sementara Spielberg, maestro di balik Jaws dan Jurassic Park, justru mengingatkan bahaya substitusi kreativitas manusia oleh mesin.
Dalam acara Amazon's AI on the Lot di Culver City, Kamis (28/5), Edwards menyamakan kemunculan AI dengan revolusi CGI pada 1990-an. Menurutnya, AI adalah alat yang setara dengan kamera dan akan melampaui CGI. “Saya tidak melihat alasan mengapa seorang sineas tidak tertarik pada teknologi ini,” ujarnya. Sutradara The Creator (2023) itu bahkan mengaku ingin membuat film hibrida berbasis AI generatif, namun menunda karena perkembangan teknologi yang terlalu cepat—setiap tiga bulan terjadi perubahan signifikan.
Edwards menekankan bahwa fungsi utama AI bukanlah menulis cerita yang menyentuh, melainkan membantu mengorganisasi ide. Ia menggambarkan AI sebagai “asisten sutradara kedua yang mabuk dan kaya raya”—mampu melakukan apa pun yang diminta, meski kadang hasilnya di luar kendali. “Ia tidak punya selera, tapi jenius dalam membantu,” katanya.
Pandangan Edwards kontras dengan pernyataan Spielberg dalam podcast IMO. Sutradara 79 tahun itu menolak keras AI menggantikan peran kreatif manusia. “Saya tidak percaya pada kesadaran buatan. Tidak ada algoritma yang bisa menggantikan jiwa,” tegasnya. Spielberg khawatir AI akan menjadi “kursi kosong” di meja penulis—seolah menjadi anggota tim yang tidak punya hati nurani. Ia hanya mengizinkan AI membantu pekerjaan kasar seperti mencari lokasi syuting, namun tidak boleh menentukan antagonis, dialog, atau posisi kamera.
Perbedaan sikap ini membuka diskusi penting bagi industri film global, termasuk Indonesia. Di tengah maraknya penggunaan AI untuk pembuatan konten, sineas Tanah Air dihadapkan pada pilihan serupa: memanfaatkan efisiensi AI atau mempertahankan sentuhan manusiawi yang menjadi ciri khas film lokal. Beberapa rumah produksi di Jakarta dan Yogyakarta mulai bereksperimen dengan AI untuk praproduksi, namun masih ragu menggunakannya untuk penulisan naskah. “Kami belajar dari Hollywood. AI bisa jadi alat, bukan pengganti,” ujar seorang produser film independen yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan sejauh mana batasan etis dan artistiknya. Akankah industri film Indonesia mengikuti jejak optimistis Edwards atau jalur hati-hati ala Spielberg? Atau mungkin menciptakan jalan tengah yang unik?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
