Petenis Inggris Tersingkir Semua di Prancis Terbuka, Boulter Gagal ke Babak Ketiga
Baca dalam 60 detik
- Katie Boulter kalah dari Anastasia Potapova dalam tiga set, mengakhiri laju petenis tunggal Inggris di Roland Garros.
- Potapova, yang sempat terpuruk di peringkat 90 besar, kini bangkit dan akan berhadapan dengan juara bertahan Coco Gauff.
- Prancis Terbuka 2025 menjadi ajang tanpa wakil Inggris di babak ketiga tunggal, menandai kemunduran tenis Negeri Ratu Elizabeth.

Katie Boulter gagal mewujudkan ambisinya menembus babak ketiga Prancis Terbuka untuk pertama kalinya. Unggulan ke-28 asal Austria, Anastasia Potapova, menyingkirkan Boulter dalam pertarungan tiga set dengan skor 5-7, 6-4, 6-2, sekaligus memupus harapan Inggris memiliki wakil di nomor tunggal Roland Garros edisi tahun ini.
Kekalahan Boulter melengkapi daftar panjang petenis Inggris yang angkat koper lebih awal. Sebelumnya, Francesca Jones juga tersingkir di babak kedua, sementara Emma Raducanu, Cameron Norrie, Jacob Fearnley, dan Toby Samuel gugur di babak pertama. Tak satu pun petenis tunggal Inggris yang tersisa di turnamen Grand Slam lapangan tanah liat ini.
Pertandingan antara Boulter dan Potapova berlangsung sengit sejak awal. Set pertama diwarnai tujuh kali break serve, menunjukkan betapa tidak stabilnya permainan kedua pemain. Boulter berhasil memenangi set tersebut, namun Potapova kemudian menemukan ritme servisnya. Petenis kelahiran Rusia yang kini membela Austria itu mampu mematahkan servis Boulter dua kali di masing-masing set berikutnya, membalikkan keadaan dan mengunci kemenangan.
Kemenangan ini menjadi kebangkitan bagi Potapova. Ia memulai musim tanah liat di luar peringkat 90 besar, namun kini telah merangkak naik ke posisi 30 dunia. Selanjutnya, Potapova akan menghadapi tantangan berat: juara bertahan Coco Gauff di babak ketiga. Ini menjadi peluang bagi Potapova untuk mencapai pekan kedua Grand Slam untuk kedua kalinya sepanjang kariernya.
Kegagalan total Inggris di nomor tunggal Roland Garros ini menjadi sorotan. Tenis Inggris, yang sempat bergairah berkat prestasi Andy Murray dan Emma Raducanu, kini menghadapi masa transisi. Raducanu yang pernah menjuarai AS Terbuka 2021 masih berjuang menemukan konsistensi, sementara pemain-pemain lain belum mampu bersaing di level tertinggi. Bagi Indonesia, dominasi negara-negara Eropa dan Amerika di tenis dunia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Minimnya infrastruktur dan pembinaan usia dini membuat petenis Indonesia sulit menembus turnamen Grand Slam. Kegagalan Inggris, yang memiliki tradisi tenis lebih kuat, menjadi pengingat betapa kompetitifnya olahraga ini.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Potapova mampu mengulang kejutan dengan mengalahkan Gauff? Atau justru Gauff yang akan melaju mulus mempertahankan gelar? Satu hal yang pasti, Prancis Terbuka tahun ini kembali membuktikan bahwa tidak ada jaminan bagi unggulan, dan setiap pertandingan bisa menjadi batu loncatan atau akhir perjalanan.


