Polri Dominasi SEA Police Badminton 2026: 4 Emas dan 2 Perak dari Kamboja
Baca dalam 60 detik
- Tim bulutangkis Polri menyapu bersih sektor beregu dan tiga nomor perorangan di kejuaraan antar-kepolisian Asia Tenggara yang digelar di Phnom Penh.
- Dari sepuluh personel yang dikirim, tujuh atlet berhasil membawa pulang enam medali, menunjukkan kedalaman skuad dan persaingan internal yang ketat.
- Prestasi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan bulutangkis di kawasan, sekaligus menjadi ajang pembinaan atlet berprestasi di lingkungan Polri.
Tim bulutangkis Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memastikan diri sebagai kontingen terkuat di Southeast Asia (SEA) Police Badminton Championship 2026 yang berlangsung di Phnom Penh, Kamboja, pada 26–31 Mei lalu. Dengan raihan empat medali emas dan dua medali perak, Polri tidak hanya unggul di sektor beregu, tetapi juga mendominasi hampir seluruh nomor perorangan yang dipertandingkan.
Pada final beregu, Kamis (28/5), tim Indonesia sukses menundukkan tuan rumah Kamboja. Kemenangan ini menjadi modal berharga sebelum para atlet Polri bertarung di nomor individu. Di tunggal putra, partai final justru mempertemukan dua atlet Polri: Bripda Gilang Ramadhan berhadapan dengan Bripda Muh Asqar Harianto. Gilang akhirnya merebut emas, sementara Asqar harus puas dengan perak. Situasi serupa terjadi di ganda putra, di mana pasangan Robby Maulana–Muh Asqar Harianto mengalahkan rekan setim Gilang Ramadhan–Kleopas Binar Putra Prakoso. Satu-satunya emas yang tidak melibatkan duel internal adalah ganda campuran, saat Desima Aqmar Syarafina yang berpasangan dengan Kleopas menaklukkan wakil Vietnam, Le Min Thai dan Bui Bich Van.
Keberhasilan ini tidak lepas dari komposisi tim yang solid. Dari sepuluh personel yang dikirim, tujuh di antaranya adalah atlet dengan latar belakang tugas di berbagai satuan, mulai dari Ditsamapta Polda Jatim hingga Satlantas Polres Maros. Kombinasi pengalaman dan semangat juang yang tinggi menjadi faktor pembeda, terutama saat menghadapi tekanan dari tuan rumah dan kontingen negara lain. AKBP Yanto Mulyanto, Kasubdit Regident Ditlantas Polda Jatim yang turut mendampingi tim, menyatakan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Menurutnya, kerja keras pemain dan official, serta dukungan institusi, menjadi kunci di balik dominasi Polri di ajang ini.
Bagi pembaca di Indonesia, prestasi ini memiliki makna lebih dari sekadar piala. Pertama, ini menunjukkan bahwa pembinaan olahraga di lingkungan Polri berjalan efektif, bahkan mampu bersaing dengan negara-negara yang memiliki tradisi bulutangkis kuat seperti Malaysia dan Thailand. Kedua, ajang SEA Police Badminton Championship menjadi barometer kesiapan atlet Polri sebelum berlaga di kejuaraan internasional yang lebih besar, seperti Kejuaraan Dunia Polisi atau bahkan SEA Games. Ketiga, keberhasilan ini juga menjadi promosi positif bagi citra institusi Polri di mata publik, terutama di tengah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui jalur olahraga.
Ke depan, tantangan bagi Polri adalah mempertahankan konsistensi prestasi dan memperluas partisipasi di nomor putri. Pada edisi 2026, hanya satu atlet putri yang dikirim, yaitu Desima Aqmar Syarafina. Sementara itu, persaingan di tingkat Asia Tenggara diprediksi akan semakin ketat seiring dengan peningkatan program pembinaan di kepolisian negara lain. Pertanyaannya, mampukah Polri mempertahankan supremasi ini pada SEA Police Badminton Championship berikutnya, atau justru akan ada kejutan dari kontingen lain yang mulai belajar dari kekalahan mereka?



