Ibrahimovic Buka Suara soal Tekanan Suporter: 'Saya Tak Datang untuk Gagal'
Baca dalam 60 detik
- Zlatan Ibrahimovic, penasihat RedBird, menyebut tekanan dari suporter sebagai yang terbesar dalam kariernya, melebihi klub dan media.
- Dalam wawancara dengan Tom Brady, Ibrahimovic memuji Luka Modric sebagai pemimpin diam yang memberi contoh di lapangan.
- Ibrahimovic akan turut menentukan pelatih dan direktur baru AC Milan setelah musim 2025-26 yang mengecewakan.

Zlatan Ibrahimovic, penasihat utama pemilik AC Milan Gerry Cardinale, menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat gagal dalam setiap tantangan yang dihadapi. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah perbincangan dengan legenda NFL Tom Brady di Fox Sports, di mana Ibrahimovic juga mengupas soal tekanan fanatik suporter sepak bola Eropa yang menurutnya bisa menjadi 'agama' bagi sebagian orang.
Ibrahimovic, yang kini berperan sebagai penasihat RedBird Capital di Milan, mengakui bahwa sorotan suporter menjadi beban terberat bagi seorang atlet. "Tekanan dari klub, media, kontrak besarโsemua itu ada. Tapi tekanan terbesar datang dari suporter. Di Italia, sepak bola bukan sekadar hobi, ini agama," ujarnya. Ia mencontohkan bagaimana fanatisme bisa berujung pada aksi vandalisme terhadap mobil pemain saat performa tim menurun.
Dalam sesi yang sama, Ibrahimovic menyoroti gaya kepemimpinan Luka Modric, gelandang Kroasia yang kini membela Milan. Menurutnya, Modric adalah contoh pemimpin yang tidak banyak bicara namun memberi teladan di lapangan. "Dia pemimpin, tapi bukan tipe yang vokal. Dia memimpin lewat kualitas dan kemampuannya di atas rumput," kata Ibrahimovic. Ia membandingkan dengan tipe pemimpin vokal yang berani mengambil tanggung jawab di momen krusial.
Ibrahimovic juga mengungkapkan mentalitas kompetitifnya yang tidak pernah rela kalah, bahkan dalam latihan. "Saya bilang ke rekan setim, 'Saya tidak kalah tiga kali pun dalam latihan.' Itulah pola pikir saya. Saya harus menang," tegasnya. Ia mengakui bahwa tekanan suporter bisa menjadi bumerang jika pemain tidak memiliki ketahanan mental. "Saat hasil buruk, mereka bisa menunggu di luar tempat latihan. Anda harus siap secara mental dan pribadi."
Namun, Ibrahimovic menekankan bahwa dirinya tidak pernah gentar. "Saya di sini untuk menang, bukan untuk bermain-main. Saya akan membuat kalian bangga," ucapnya. Pernyataan ini muncul di tengah kritik tajam dari suporter Milan setelah kegagalan tim menembus Liga Champions musim depan. Ibrahimovic, yang tidak terikat kontrak langsung dengan Milan, diyakini akan memegang peran kunci dalam perombakan manajemen klub.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, tekanan suporter yang digambarkan Ibrahimovic mengingatkan pada euforia dan ekspektasi tinggi di kompetisi lokal. Fanatisme yang membara, jika tidak dikelola dengan baik, bisa berdampak negatif pada performa pemain. Pelajaran dari Ibrahimovic tentang pentingnya keseimbangan mental dan kepemimpinan diam ala Modric bisa menjadi referensi bagi klub-klub di Tanah Air yang tengah membangun budaya sepak bola profesional.
Ke depan, keputusan Ibrahimovic dalam menentukan nahkoda baru Milan akan menjadi ujian. Akankah ia memilih pelatih dengan karakter vokal seperti dirinya, atau justru tipe tenang seperti Modric? Jawabannya akan menentukan arah Rossoneri di musim mendatang.



