Serangan di Islamic Center San Diego: Sejarah Eropa yang Dijadikan Senjata oleh Ekstremis
Baca dalam 60 detik
- Dua remaja bersenjata dengan simbol Nazi menyerang Islamic Center San Diego, menewaskan tiga orang, dan menyebut aksi mereka sebagai bagian dari 'perang ras'.
- Pelaku terinspirasi oleh serangan Christchurch 2019 dan Breivik 2011, yang sama-sama menggunakan narasi sejarah Eropa, seperti Perang Salib, untuk membenarkan kekerasan.
- Para ahli mendesak perlunya pendidikan sejarah yang inklusif untuk melawan radikalisasi yang dipicu oleh interpretasi rasis terhadap masa lalu Eropa.

Pada 18 Mei 2026, dua pria berusia 17 dan 18 tahun menyerang Islamic Center of San Diego, sebuah kompleks yang menaungi masjid dan sekolah, menewaskan tiga orang dewasa. Para pelaku mengenakan lencana SS Nazi dan menuliskan kata 'race war' pada senjata mereka. Serangan ini menjadi bukti terbaru bagaimana sejarah Eropa dimanipulasi oleh kelompok ekstremis sayap kanan global untuk melegitimasi kekerasan di Amerika Serikat.
Fenomena ini bukan hanya masalah AS. Manifesto pelaku penembakan di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019 secara eksplisit merujuk pada sejarah Eropa, dan aksi tersebut terinspirasi oleh serangan Anders Breivik di Norwegia pada 2011. Breivik, yang mengaku sebagai 'Ksatria Templar', membunuh 77 orang dengan dalih melindungi Eropa Kristen dari ancaman Muslim dan Yahudi. Pola yang sama terlihat pada pelaku San Diego: mereka menyebut diri sebagai 'putra' dari penyerang Christchurch dan bercita-cita memicu 'perang salib' baru.
Para ekstremis sayap kanan kerap mengagungkan tokoh-tokoh sejarah seperti Charles Martel, yang mengalahkan pasukan Muslim pada 732 M, serta Perang Salib dan Ksatria Templar. Simbol-simbol ini, menurut para akademisi, mudah diubah menjadi meme dan retorika kebencian. Penyerang Christchurch, misalnya, menuliskan nama-nama pertempuran Perang Salib pada senjatanya, serta frasa 'kebab remover'—eufemisme untuk pembersihan etnis yang dipopulerkan oleh pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadžić. Frasa ini masih beredar luas di kalangan sayap kanan Eropa sebagai bentuk Islamofobia.
Serangan San Diego bukanlah insiden terisolasi. Pada April 2019, tiga anggota milisi Kansas yang menamai diri 'Crusaders' ditangkap sebelum sempat meledakkan kompleks apartemen yang dihuni keluarga Muslim Somalia. Di bulan yang sama, seorang mahasiswa keperawatan menembaki sinagoga di San Diego County, menewaskan satu orang, setelah sebelumnya mencoba membakar masjid. Mahasiswa tersebut diketahui mengagumi Hitler, dan laporan rekan-rekannya kepada pihak kampus tidak ditindaklanjuti.
"Kita bisa melawan radikalisasi yang berakar pada versi rasis dan fantasi sejarah Eropa dengan mengajarkan tidak hanya sejarah penaklukan militer, tetapi juga sejarah panjang Muslim dan Arab biasa yang datang ke AS dan Eropa untuk membangun masa depan yang lebih baik," ujar seorang profesor sejarah yang telah lama meneliti Islamofobia.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada satu pun program studi di kawasan San Diego yang secara khusus membahas sejarah Muslim Amerika dan Arab Amerika. Para ahli menilai bahwa kesenjangan pendidikan inilah yang membuat narasi rasis tentang sejarah Eropa terus mendominasi wacana publik. Tanpa upaya serius untuk menyajikan sejarah yang lebih inklusif, siklus kekerasan yang diilhami oleh interpretasi sejarah yang keliru diperkirakan akan terus berulang.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5132184/original/019290400_1739442775-WhatsApp_Image_2025-02-13_at_17.05.45.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7221281/original/074803200_1780008812-HJcLJQVaQAAbN3D.jpg)