Pemulangan Warga Australia Eks Simpatisan ISIS dari Suriah: Proses Hukum dan Pengawasan Ketat
Baca dalam 60 detik
- Dua perempuan dan tujuh anak yang terkait ISIS tiba di Melbourne dan Sydney, menjadi kelompok terakhir dari kamp al-Roj di Suriah.
- Pemerintah Australia menegaskan tidak akan memberikan bantuan dan siap menindak tegas jika terbukti melanggar hukum.
- Kasus ini menyoroti dilema keamanan nasional dan hak asasi manusia dalam menangani warga yang terlibat organisasi teroris.

Pemerintah Australia kembali memulangkan sejumlah warganya yang terdampar di kamp pengungsian Suriah. Sebuah pesawat mendarat di Melbourne pada Selasa sore, membawa dua perempuan dan tujuh anak yang memiliki keterkaitan dengan kelompok Negara Islam (IS). Satu jam kemudian, pesawat lain tiba di Sydney. Mereka adalah kelompok terakhir warga Australia yang masih berada di kamp al-Roj, tempat keluarga pejuang IS ditahan sejak 2019.
Menteri Dalam Negeri Tony Burke menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan bantuan apa pun kepada kelompok ini. โMereka adalah orang-orang yang membuat pilihan mengerikan untuk bergabung dengan organisasi teroris berbahaya dan menempatkan anak-anak mereka dalam situasi yang tak terkatakan,โ ujarnya. Burke menambahkan bahwa pihak berwenang telah menyiapkan rencana jangka panjang untuk memantau dan mengelola mereka sejak 2014.
Beberapa perempuan yang kembali dilaporkan mengaku tidak sengaja berada di Suriah. Kirsty Rosse-Emile, yang meninggalkan Australia saat berusia 19 tahun, menyatakan kepada ABC bahwa itu bukan pilihannya. Sementara itu, Nesrine Zahab mengaku ditipu oleh sepupunya, perekrut ISIS Muhammad Zahab, untuk bepergian ke Suriah. Sumaya Zahab (saudara perempuan Muhammad) dan Aminah Zahab (ibunya) juga termasuk dalam kelompok tersebut.
Pemulangan ini memicu perdebatan tentang keseimbangan antara keamanan nasional dan hak asasi manusia. Pemerintah Australia menekankan bahwa setiap anggota kelompok yang melakukan kejahatan akan menghadapi proses hukum. Namun, keberadaan anak-anak yang tidak bersalah menjadi perhatian khusus. Seorang anak yang masih berada di Suriah bersama ibunya memiliki paspor Australia dan tidak dilarang pulang, namun ibunya terkena perintah larangan masuk sementara.
Ke depan, pemerintah akan terus memantau pergerakan para pemulang ini. Kasus ini menjadi ujian bagi Australia dalam menangani warganya yang terlibat dengan jaringan teroris internasional, sekaligus menjaga komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183244/original/002499300_1779979290-73e29194-e437-4c19-b7f9-036854c92468.jpg)
