Kemenangan Bersejarah Tim Sepak Bola Wanita Korut di ACL Terkendala Sanksi PBB
Baca dalam 60 detik
- Klub sepak bola wanita asal Korea Utara, Naegohyang, berhasil menjuarai turnamen AFC Women's Champions League 2026 setelah mengalahkan lawan-lawannya di babak semifinal dan final yang digelar di Suwon, Korea Selatan.
- Meski berhak atas hadiah kemenangan sebesar 1 juta dolar AS, tim tersebut tidak dapat menerima langsung karena larangan memperoleh pendapatan di luar negeri yang dijatuhkan oleh sanksi ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap Korea Utara.
- Dana hadiah akan dikelola oleh FIFA dan AFC untuk membiayai partisipasi tim Korut di turnamen internasional mendatang, sementara media pemerintah Korut menyebut kemenangan ini sebagai sumber inspirasi bagi rakyat.

Tim sepak bola wanita asal Korea Utara, Naegohyang (yang berarti 'Kampung Halamanku'), baru saja menorehkan prestasi gemilang dengan menjuarai turnamen AFC Women's Champions League (ACL) edisi 2026. Namun, euforia kemenangan itu harus diiringi kenyataan pahit: hadiah uang tunai sebesar 1 juta dolar AS (sekitar Rp15,9 miliar) tidak bisa langsung diterima oleh para pemain dan staf pelatih. Kendala ini muncul akibat sanksi ekonomi yang dijatuhkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Korea Utara, yang melarang warga negara tersebut memperoleh pendapatan di negara anggota PBB.
Turnamen ACL edisi tahun ini mempertemukan klub-klub unggulan dari berbagai negara Asia. Babak semifinal dan final digelar di Suwon, Korea Selatan, pada 23 Mei 2026. Naegohyang berhasil mengalahkan lawan-lawannya dan keluar sebagai juara, sebuah pencapaian yang langsung disambut meriah oleh media pemerintah Korea Utara. Surat kabar resmi Partai Buruh Korea, Rodong Sinmun, memberitakan kemenangan tersebut dengan foto-foto para pemain dan menyebutnya sebagai 'pemberi keyakinan akan kemenangan dan kekuatan inspirasi besar' bagi rakyat Korea Utara.
Pertanyaan mengenai nasib hadiah uang tersebut pun mencuat. Mengapa tim yang telah berjuang keras tidak bisa menikmati hasil kemenangannya secara langsung? Jawabannya terletak pada rezim sanksi internasional yang masih membelenggu Korea Utara. Sejak tahun 2006, PBB melalui berbagai resolusi Dewan Keamanan telah melarang negara-negara anggotanya memberikan layanan keuangan atau memfasilitasi transfer dana yang dapat menguntungkan rezim Pyongyang. Dalam konteks olahraga, aturan ini membuat tim asal Korut tidak dapat menerima hadiah uang tunai di luar negeri.
Sebagai solusi, FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) dan AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) akan mengambil alih pengelolaan dana tersebut. Rencananya, uang sebesar 1 juta dolar AS itu akan digunakan untuk membiayai partisipasi tim Naegohyang di turnamen-turnamen internasional selanjutnya, termasuk biaya perjalanan, akomodasi, dan perlengkapan. Langkah ini bukanlah hal baru; pada tahun 2017, Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) juga pernah menyatakan tidak akan membayarkan hadiah kepada tim nasional Korea Utara karena alasan serupa.
Kemenangan Naegohyang di ACL menjadi sorotan tidak hanya karena prestasi olahraganya, tetapi juga karena kompleksitas politik yang mengikutinya. Di satu sisi, keberhasilan ini menunjukkan bahwa atlet Korea Utara tetap mampu bersaing di level tertinggi Asia meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Di sisi lain, insiden ini kembali mengingatkan dunia bahwa sanksi internasional memiliki dampak yang luas, termasuk pada dunia olahraga yang seharusnya menjadi ajang persatuan.
Ke depan, publik akan menanti bagaimana FIFA dan AFC menjalankan peran mereka sebagai pengelola dana, serta apakah akan ada perubahan kebijakan yang memungkinkan atlet Korut untuk menerima hak mereka secara lebih langsung. Yang jelas, kisah Naegohyang menjadi babak baru dalam hubungan rumit antara olahraga dan politik di kawasan Asia Timur.



