Krisis Finansial PSBS Biak: Gaji Tertunggak 4 Bulan, Degradasi Tak Terhindarkan
Baca dalam 60 detik
- PSBS Biak gagal membayar gaji pemain dan staf selama empat bulan, berujung pada degradasi ke Liga 2 musim depan.
- Mayoritas pemain inti hengkang sebelum kompetisi usai, memaksa klub mengandalkan pemain muda di laga pamungkas.
- Winger asing Luquinhas mendesak manajemen menepati janji kontrak, meski tetap mengapresiasi kualitas BRI Super League.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563555/original/092981100_1776906853-psbs.jpg)
PSBS Biak mengakhiri musim BRI Super League 2025/2026 dengan catatan kelam. Klub asal Papua itu harus rela terdegradasi ke Liga 2 setelah finis di posisi juru kunci klasemen. Namun, di balik hasil buruk tersebut, tersimpan masalah struktural yang lebih dalam: tunggakan gaji pemain dan staf yang sudah berlangsung empat bulan tanpa kepastian penyelesaian.
Manajemen PSBS dinilai gagal memenuhi kewajiban finansial sejak awal tahun. Akibatnya, performa tim di lapangan ikut terpengaruh. Dari 34 pertandingan, PSBS hanya mampu mengoleksi 18 poin hasil dari empat kemenangan, enam hasil imbang, dan 24 kekalahan. Krisis ini memicu eksodus besar-besaran pemain inti sebelum kompetisi berakhir, sehingga pada dua laga terakhir, PSBS terpaksa menurunkan talenta muda dan produk akademi.
Salah satu pemain yang angkat bicara adalah winger asal Brasil, Luquinhas. Pemain berusia 29 tahun itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap manajemen yang dianggap tidak menepati janji. “Saya hanya berharap mereka memberikan apa yang mereka janjikan sebelum musim dimulai. Setiap orang punya tanggung jawab kontrak,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Kami berdoa agar situasi ini segera selesai untuk klub, pemain, staf, dan semua yang telah memberikan 100 persen.”
Meski tim terpuruk, Luquinhas mencatatkan performa individu impresif dengan tujuh gol dan enam assist dari 31 penampilan. Ia mengakui bahwa BRI Super League memiliki level persaingan yang tinggi dan terus berkembang. “Sayangnya dengan klub keadaannya tidak berjalan baik, tetapi liganya terus berkembang. Saya rasa selangkah demi selangkah akan menjadi seperti liga top di Asia,” katanya.
Kasus PSBS menjadi pengingat bagi klub-klub Indonesia bahwa keberlanjutan finansial adalah fondasi utama prestasi. Tanpa kepastian pembayaran gaji, sulit mengharapkan loyalitas dan performa maksimal dari pemain. Ke depan, operator liga perlu memperketat pengawasan kepatuhan klub terhadap kewajiban kontrak agar insiden serupa tidak terulang.



