Enzo Le Fee Jadi Sosok Baru ala Jermain Defoe di Sunderland, Bawa Tim ke Eropa
Baca dalam 60 detik
- Sunderland finis ketujuh Premier League musim ini, mengamankan tiket Europa League 2026/27.
- Enzo Le Fee menjadi motor serangan dengan 11 kontribusi gol (5 gol, 6 assist) dan memimpin tim dalam expected assists serta peluang tercipta.
- Rekrutmen cerdas Sunderland yang mendatangkan pemain berpengalaman namun masih di puncak performa menjadi kunci sukses mereka.

Sunderland berhasil mengejutkan banyak pihak dengan finis di posisi ketujuh Premier League musim 2025/26, mengamankan tiket ke Europa League musim depan. Keberhasilan ini semakin manis karena rival sekota, Newcastle United, justru gagal lolos ke kompetisi Eropa. Kemenangan 2-1 atas Chelsea di laga pamungkas menjadi penegas bahwa The Black Cats bukan sekadar tim promosi yang bertahan dari degradasi.
Kunci sukses Sunderland tidak lepas dari strategi rekrutmen yang cerdas. Alih-alih mendatangkan pemain muda proyek atau veteran yang sudah uzur, manajemen klub memilih pemain berpengalaman dari liga top Eropa yang masih berada di puncak performa. Granit Xhaka, Nordi Mukiele, dan Omar Alderete menjadi contoh nyata bagaimana para pemain ini langsung beradaptasi dan menjadi pilar penting di bawah asuhan Regis Le Bris.
Salah satu figur sentral yang menjadi sorotan adalah Enzo Le Fee. Gelandang serang asal Prancis yang direkrut dari Roma dengan biaya Β£19,3 juta pada musim panas lalu ini tampil gemilang sepanjang musim. Le Fee mencatatkan 5 gol dan 6 assist di Premier League, menjadikannya satu-satunya pemain Sunderland yang mencapai dua digit kontribusi gol. Ia juga memimpin tim dalam expected assists (5,96) dan peluang besar yang diciptakan (13). Penampilannya melawan Chelsea di laga terakhir, di mana ia menciptakan peluang emas terbanyak, menjadi bukti kualitasnya.
Perbandingan dengan Jermain Defoe memang tidak berlebihan. Defoe, yang didatangkan sebagai striker berpengalaman, menjadi pahlawan yang mengangkat Sunderland dari jurang degradasi. Kini, Le Fee memainkan peran serupa meski dengan posisi berbeda. Ia menjadi andalan di lini depan, mampu menciptakan peluang sendiri maupun untuk rekan setim. Kehadirannya membuat Sunderland tidak hanya bertahan, tetapi juga bersaing di papan atas.
Keberhasilan Sunderland musim ini menjadi studi kasus menarik bagi klub promosi lainnya. Alih-alih panik dengan ancaman degradasi, mereka justru berani merekrut pemain bintang yang masih haus prestasi. Hasilnya, target awal yang hanya menghindari degradasi berubah menjadi tiket ke Eropa. Le Fee, dengan kontribusinya yang konsisten, menjadi simbol dari strategi tersebut.
Melihat ke depan, Sunderland kini memiliki fondasi kuat untuk bersaing di level yang lebih tinggi. Dengan pemain kunci seperti Le Fee yang masih berada di usia emas, serta rekrutan berpengalaman lainnya, The Black Cats berpotensi menjadi kekuatan baru di Premier League. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan performa dan menambah kedalaman skuad untuk menghadapi jadwal padat di kompetisi Eropa.



