Asing Borong Saham Tambang di Tengah Tekanan IHSG, Danantara Jadi Katalis?
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net buy Rp809,1 miliar pada saham komoditas dan mineral sepekan terakhir, meski IHSG anjlok 8,35%.
- Saham MDKA, BRMS, dan BUMI menjadi primadona dengan net buy masing-masing di atas Rp400 miliar, didorong optimisme pembentukan BUMN ekspor Danantara.
- Pelemahan IHSG dipicu aksi jual saham grup Prajogo Pangestu, sementara likuiditas pasar justru meningkat dengan rata-rata transaksi harian naik 15,68%.

Pekan lalu, pergerakan investor asing di bursa Indonesia menunjukkan pola yang kontras. Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 8,35% ke level 6.162,045 dan kapitalisasi pasar menyusut lebih dari Rp1.190 triliun, asing justru diam-diam mengakumulasi saham-saham berbasis komoditas dan mineral dalam jumlah besar. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total net buy asing di pasar reguler mencapai Rp809,1 miliar selama periode 18β22 Mei 2026, dengan konsentrasi beli pada emiten tambang dan energi.
Fenomena ini terjadi di tengah sorotan publik terhadap rencana pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), BUMN khusus ekspor yang dinilai dapat memperkuat posisi komoditas nasional di pasar global. Langkah asing memborong saham sektor pertambangan mengindikasikan ekspektasi positif terhadap prospek bisnis komoditas, terutama logam mulia dan batu bara, yang menjadi andalan ekspor Indonesia.
Namun, aksi beli asing tersebut tidak mampu menahan laju pelemahan IHSG yang menjadi salah satu indeks terburuk di Asia dan ASEAN. Penyebab utamanya adalah aksi jual besar-besaran pada saham-saham grup Prajogo Pangestu. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ambles 53,49% dan menjadi laggard terbesar dengan kontribusi negatif 47,55 poin. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 47,34%, sementara PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merosot 23,44%. Ketiga saham ini menjadi pemberat utama IHSG sepanjang pekan lalu.
Menariknya, di tengah tekanan indeks, likuiditas pasar justru menunjukkan peningkatan. Rata-rata nilai transaksi harian bursa naik 15,68% menjadi Rp21,77 triliun, meskipun frekuensi transaksi turun 6,5% menjadi 2,36 juta kali. Hal ini mengindikasikan bahwa perputaran dana lebih banyak terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, seiring rotasi portofolio investor institusional.
Ke depan, arah pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan implementasi Danantara serta sentimen global terhadap komoditas. Jika BUMN ekspor tersebut mampu merealisasikan sinergi yang dijanjikan, sektor tambang berpotensi menjadi motor penggerak baru bagi indeks. Namun, risiko dari volatilitas harga komoditas dan tekanan eksternal tetap perlu diwaspadai investor.



