Rusia Kembali Gunakan Rudal Hipersonik Oreshnik dalam Serangan Masif ke Kyiv, Dua Tewas
Baca dalam 60 detik
- Rusia meluncurkan 600 drone dan 90 rudal ke Kyiv, termasuk rudal hipersonik Oreshnik yang baru digunakan untuk ketiga kalinya.
- Serangan ini merupakan balasan atas serangan Ukraina ke asrama di Luhansk yang menewaskan 21 orang, memicu kecaman internasional.
- Ukraina kesulitan mencegat rudal balistik karena kekurangan sistem pertahanan udara, mendorong percepatan produksi dalam negeri.

Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Kyiv pada Minggu (25/5) dengan menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik, menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 83 lainnya. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa rudal tersebut, yang mampu membawa hulu ledak nuklir atau konvensional, menghantam kota Bila Tserkva di wilayah Kyiv. Serangan ini menandai penggunaan Oreshnik untuk ketiga kalinya sejak perang dimulai empat tahun lalu.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, total 600 drone dan 90 rudal dari berbagai platform—udara, laut, dan darat—diluncurkan dalam serangan tersebut. Sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menghancurkan atau menjam 549 drone dan 55 rudal, sementara 19 rudal lainnya gagal mencapai sasaran. Namun, sejumlah rudal balistik berhasil menembus pertahanan, menyebabkan kerusakan parah di 50 lokasi di berbagai distrik ibu kota, termasuk gedung pemerintahan, sekolah, pusat perbelanjaan, dan pasar.
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi penggunaan Oreshnik dan rudal lainnya untuk menyerang "fasilitas komando dan kontrol militer" Ukraina, pangkalan udara, serta industri pertahanan. Moskow menyebut serangan ini sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap "fasilitas sipil di wilayah Rusia" pada Jumat lalu, yang menewaskan 21 orang di sebuah asrama di Luhansk yang dikuasai Rusia. Presiden Vladimir Putin sebelumnya telah memerintahkan serangan balasan setelah menuding Kyiv menargetkan bangunan non-militer.
Serangan terhadap Kyiv memicu reaksi keras dari sekutu Eropa Ukraina. Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam penggunaan Oreshnik, sementara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengumumkan pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa dalam beberapa hari untuk membahas peningkatan tekanan internasional terhadap Rusia. Albania juga melaporkan bahwa kediaman duta besarnya di Kyiv ikut terkena serangan, yang disebut Menteri Luar Negeri Ferit Hoxha sebagai "eskalasi serius" dan "tidak dapat diterima".
Di sisi lain, Ukraina mengakui bahwa tidak semua rudal balistik berhasil dicegat. Zelenskyy menyoroti kekurangan sistem pertahanan udara yang mampu menembak jatuh rudal balistik, terutama rudal Patriot buatan AS yang stoknya terbatas. Pemerintah Ukraina kini menjadikan pengembangan rudal pertahanan dalam negeri sebagai prioritas, meskipun membutuhkan waktu dan pendanaan yang tidak sedikit.
Korban jiwa dan kerusakan masih terus dilaporkan. Di distrik Shevchenko, sebuah gedung apartemen lima lantai terbakar setelah terkena serangan, menewaskan satu orang. Warga Kyiv, Svitlana Onofryichuk, yang telah bekerja di pasar yang hancur selama 22 tahun, mengaku kehilangan segalanya. "Pekerjaan saya hilang, semuanya hilang, semuanya terbakar," ujarnya. Sementara itu, seorang saksi lain, Yevhen Zosin, menceritakan bagaimana ia dan anjingnya terpental oleh gelombang kejut ledakan, namun beruntung selamat.
Serangan ini juga memicu perdebatan di Dewan Keamanan PBB. Duta Besar Ukraina Andrii Melnyk menolak tuduhan Rusia tentang kejahatan perang, menyebutnya sebagai "pertunjukan propaganda murni" dan menegaskan bahwa operasi Ukraina pada 22 Mei "secara eksklusif menargetkan mesin perang Rusia". Di sisi lain, Rusia mengklaim telah menembak jatuh atau menjam 33 drone Ukraina semalam, termasuk di wilayah Moskow dan Krimea yang dianeksasi.
Ke depan, situasi kemanusiaan di Kyiv semakin memprihatinkan. Dengan terus berkobarnya api dan runtuhnya bangunan, upaya penyelamatan masih berlangsung. Serangan ini menegaskan kembali bahwa perang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan kebutuhan Ukraina akan sistem pertahanan udara yang lebih canggih menjadi semakin mendesak.



