Protes Pembagian Pendapatan Grand Slam: Sabalenka Pimpin Aksi Pemotongan Konferensi Pers
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka bersama 20 pemain top lainnya memangkas durasi konferensi pers di Prancis Terbuka sebagai bentuk protes terhadap alokasi pendapatan turnamen yang dinilai tidak adil.
- Para pemain hanya menerima 15,5 persen dari pendapatan Grand Slam, lebih rendah tujuh persen dibandingkan alokasi di turnamen ATP dan WTA, sehingga aksi ini menjadi simbol tuntutan kenaikan.
- Langkah kolektif ini diharapkan mendorong negosiasi lebih serius dengan penyelenggara Grand Slam, meskipun opsi boikot masih dianggap terlalu ekstrem oleh sebagian pemain.

Prancis Terbuka 2025 diwarnai aksi protes para pemain top dunia yang menuntut pembagian pendapatan lebih adil dari turnamen Grand Slam. Aryna Sabalenka, petenis peringkat satu dunia, bersama Jannik Sinner dan Coco Gauff, memangkas durasi konferensi pers mereka menjadi hanya 15 menit sebagai simbol ketidakpuasan terhadap alokasi pendapatan yang hanya mencapai 15,5 persen dari total pendapatan turnamen.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan Grand Slam yang dinilai kurang memberikan kompensasi layak kepada pemain. Menurut data yang dihimpun, persentase pendapatan yang diterima pemain di Grand Slam tujuh persen lebih rendah dibandingkan dengan turnamen reguler ATP dan WTA. Sabalenka menegaskan bahwa perjuangan ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk pemain berperingkat lebih rendah yang paling terdampak.
Sabalenka mengungkapkan bahwa aksi ini dilakukan dengan cara yang tetap menghormati media dan penggemar. "Kami ingin menyampaikan pesan dengan cara yang sopan. Ini bukan tentang kalian, ini tentang perjuangan kami untuk persentase yang adil," ujarnya. Ia juga mendapat dukungan dari Novak Djokovic yang memuji sikap kepemimpinannya. Sementara itu, penyelenggara Roland Garros menyatakan penyesalan dan berjanji akan mengadakan pertemuan dengan para pemain untuk membahas tuntutan tersebut.
Namun, tidak semua pemain sepakat dengan langkah ekstrem seperti boikot. Taylor Fritz, misalnya, mengingatkan bahwa ancaman boikot harus dipertimbangkan matang-matang karena dampaknya yang besar. "Kami tidak boleh membuat ancaman besar kecuali benar-benar siap melakukannya," katanya. Sikap hati-hati ini mencerminkan kompleksitas negosiasi antara pemain dan penyelenggara Grand Slam.
"Ini tentang rasa hormat. Ketika kami harus menunggu lebih dari setahun hanya untuk mendapatkan tanggapan kecil, itu tidak menyenangkan. Mari kita lihat bagaimana Grand Slam lainnya bereaksi setelah ini," ujar Jannik Sinner, menekankan pentingnya solidaritas pemain.
Di tengah aksi protes, Sabalenka juga memastikan kondisi fisiknya sudah pulih sepenuhnya setelah mengalami cedera punggung dan pinggul pada awal musim tanah liat. Ia hanya memenangkan empat dari enam pertandingan di permukaan tanah liat musim ini, kontras dengan catatan 26-1 sebelum musim ini. Namun, ia optimistis pengalaman bermain di tanah liat akan membantunya tampil maksimal di Roland Garros.
Aksi pemotongan konferensi pers ini menjadi langkah konkret pertama yang dilakukan para pemain secara kolektif. Ke depannya, tekanan terhadap penyelenggara Grand Slam diperkirakan akan meningkat, terutama jika tuntutan peningkatan alokasi pendapatan tidak segera ditanggapi. Solidaritas yang ditunjukkan para pemain top menjadi sinyal kuat bahwa perubahan dalam struktur pendapatan Grand Slam sudah mendesak untuk dilakukan.



