Absennya Alcaraz dari Prancis Terbuka: Sinner Kian Tak Terbendung di Puncak Tenis Dunia
Baca dalam 60 detik
- Cedera pergelangan tangan memaksa Carlos Alcaraz mundur dari Prancis Terbuka, meninggalkan Jannik Sinner sebagai favorit mutlak di Paris.
- Sinner memimpin klasemen ATP dengan selisih 8.095 poin dari Alexander Zverev, menunjukkan dominasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di era modern.
- Tanpa rival utamanya, Sinner berpeluang menyapu bersih gelar Masters 1000 dan Grand Slam hingga musim rumput, memperlebar jarak dengan kompetitor.

Jannik Sinner kini berdiri sendirian di puncak tenis putra setelah Carlos Alcaraz dipastikan absen dari Prancis Terbuka 2025 akibat cedera pergelangan tangan kanan. Petenis nomor satu dunia itu langsung dianggap sebagai kandidat terkuat untuk merebut gelar Grand Slam pertamanya di Roland-Garros, sekaligus melengkapi koleksi trofi mayor di usia 24 tahun.
Keputusan Alcaraz mundur diambil setelah serangkaian tes medis menunjukkan cedera yang cukup serius. Bagi sang juara bertahan dua kali di Paris, ini merupakan pukulan berat. Namun di sisi lain, kepergiannya membuka jalan bagi Sinner untuk mendominasi turnamen. Petenis Italia itu baru saja mencatatkan rekor sebagai pemain pertama yang memenangkan lima gelar Masters 1000 berturut-turut, setelah mengalahkan Alexander Zverev 6-1, 6-2 dalam waktu 57 menit di final Madrid.
Komentator utama Sky Sports, Jonathan Overend, menilai absennya Alcaraz sebagai "kabar buruk bagi tenis" karena menghilangkan peluang duel lima set epik antara dua pemain terbaik dunia. "Dalam tenis putra, segalanya tentang Sinner dan Alcaraz. Mereka sudah sering bertemu, tapi sejak final Prancis Terbuka musim lalu, belum ada lagi pertandingan klasik di antara mereka," ujar Overend. Ia menambahkan bahwa cedera ini setidaknya akan menunda persaingan puncak hingga musim rumput tiba.
Dominasi Sinner tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga dari cara ia memenangkan pertandingan. Dari lima gelar Masters 1000 musim ini, hampir semuanya diraih tanpa kehilangan satu set pun. Jamie Murray, mantan petenis ganda asal Inggris yang baru pensiun, mengakui bahwa Sinner akan sulit dihentikan di Paris. "Tantangan terbesar dalam tenis saat ini adalah bagaimana mengalahkan Sinner dan Alcaraz, karena mereka hanya kalah satu sama lain. Dengan Alcaraz tidak ada, sulit membayangkan orang lain bisa mengalahkan Sinner, apalagi dalam format best-of-five," kata Murray.
Di sisi lain, para pesaing seperti Alexander Zverev dan Novak Djokovic dianggap belum cukup kuat untuk menggoyahkan Sinner. Zverev, yang akan menjadi unggulan kedua, belum pernah memenangkan Grand Slam. Sementara Djokovic yang akan berusia 39 tahun saat turnamen dimulai, diragukan mampu bertahan dalam pertandingan lima set melawan Sinner. Overend bahkan menyebut bahwa semua pemain pasti ingin berada di bagian undian yang berlawanan dengan Sinner.
Meski begitu, kemungkinan kejutan tetap ada. Overend mengingatkan bahwa di Wimbledon tahun lalu, Sinner nyaris tersingkir lebih awal jika lawannya, Grigor Dimitrov, tidak mengalami cedera. "Seseorang bisa muncul tiba-tiba dan mengalahkan Sinner di babak awal, tapi dalam Grand Slam, memenangkan tiga set adalah tantangan yang jauh lebih besar. Itu membuat skenario kejutan menjadi sangat tidak mungkin," pungkasnya.
Dengan absennya Alcaraz setidaknya hingga musim rumput, Sinner berpeluang memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya di turnamen-turnamen besar. Jika mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin ia akan meninggalkan rival-rivalnya dalam jarak yang semakin jauh, menciptakan era baru dominasi tunggal di tenis putra.



