Armada Inggris Siaga di Gibraltar, Menanti Lampu Hijau untuk Operasi Ranjau di Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Ratusan personel Angkatan Laut Inggris di atas RFA Lyme Bay bersiap menjalankan misi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, namun operasi masih bergantung pada kesepakatan damai antara AS, Iran, dan Israel.
- Teknologi otonom seperti drone sonar dan kendaraan jarak jauh akan digunakan untuk memetakan dan menetralisir ancaman ranjau, mengurangi risiko bagi personel di lapangan.
- Ketidakpastian masih menyelimuti efektivitas misi karena belum ada konfirmasi keberadaan ranjau, sementara tekanan diplomatik dari AS terhadap sekutu terus meningkat.

Di perairan Gibraltar, ratusan pelaut Inggris di atas kapal RFA Lyme Bay menunggu kepastian untuk memulai misi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Operasi yang digagas bersama Prancis ini baru akan berjalan jika kesepakatan damai antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel rampung. Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns, menyatakan bahwa kapal tersebut telah diisi amunisi dan perlengkapan drone laut otonom yang dilengkapi sonar untuk mendeteksi ancaman bawah air.
Selat Hormuz menjadi titik kritis sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. Iran menutup akses jalur tersebut sebagai respons atas serangan AS dan Israel, mengakibatkan gangguan parah pada rantai pasok energi global. Menurut Carns, sedikitnya 6.000 kapal terhambat melintas sejak awal konflik. Tekanan terhadap Inggris pun meningkat setelah Presiden Trump mengecam kontribusi sekutu dan menyebut Angkatan Laut Inggris sebagai "mainan".
Komandan Gemma Britton, kepala unit penanganan ranjau Angkatan Laut Inggris, mengungkapkan bahwa Iran diperkirakan menempatkan berbagai jenis ranjau—mulai dari yang digerakkan roket hingga ranjau dasar yang dipicu oleh suara atau cahaya. Untuk mengatasinya, RFA Lyme Bay mengandalkan sistem otonom yang mampu memindai dasar laut dalam waktu setengah lebih cepat dibanding kapal berawak. Drone sonar menghasilkan citra objek bawah air, mulai dari jaring ikan hingga pipa, yang kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi ranjau. Jika ditemukan, kendaraan jarak jauh akan menjatuhkan muatan peledak tanpa perlu melibatkan penyelam.
Prioritas awal adalah membuka satu jalur transit untuk memungkinkan sekitar 700 kapal meninggalkan selat, diikuti jalur sebaliknya untuk kapal yang akan masuk. Britton menambahkan bahwa pembersihan total seluruh area bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi bahwa ranjau benar-benar ada di selat tersebut. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa tidak ada ranjau yang ditemukan atau dihancurkan, dan lalu lintas komersial masih berjalan meski dengan volume jauh lebih rendah.
Ketika ditanya apakah misi ini hanya sekadar pencitraan untuk menyenangkan AS, Carns menegaskan bahwa perusahaan asuransi membutuhkan jaminan mutlak sebelum kapal kembali berlayar. "Kemampuan inilah yang akan memberikan kepastian itu," ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa waktu pelaksanaan operasi sepenuhnya tergantung pada negosiasi politik yang masih berlangsung. Trump menyebut kesepakatan "sebagian besar telah dinegosiasikan", tetapi detail akhir masih dibahas.
Sembari menunggu, RFA Lyme Bay dan awaknya akan tetap siaga penuh. "Kami akan benar-benar siap," pungkas Carns. Ketidakpastian ini mencerminkan kompleksitas diplomasi global di tengah krisis yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.



