Jaringan Listrik ASEAN Terancam Tak Mampu Penuhi Lonjakan Permintaan 100 Terawatt di Era AI
Baca dalam 60 detik
- Hanya 8 dari 18 sambungan listrik lintas batas ASEAN yang telah terealisasi, sementara proyeksi kebutuhan energi melonjak hingga 100 terawatt pada 2045.
- Para analis menilai desain jaringan yang ada saat ini tidak fleksibel untuk mengintegrasikan energi terbarukan dan teknologi kecerdasan buatan.
- Revisi besar-besaran terhadap cetak biru kelistrikan regional dinilai mendesak demi menjamin ketahanan energi di era digital.

Rencana ambisius ASEAN untuk membangun jaringan listrik terpadu sejak 1997 kini menghadapi tantangan berat. Hingga saat ini, baru delapan dari 18 sambungan lintas batas yang direncanakan berhasil dibangun. Di saat yang sama, proyeksi lonjakan permintaan listrik mencapai 100 terawatt pada 2045, mendorong seruan untuk merombak total cetak biru kelistrikan kawasan agar mampu menjawab kebutuhan era kecerdasan buatan (AI).
Muyi Yang, analis energi senior dari lembaga riset Ember, menegaskan bahwa sistem yang ada saat ini tidak dirancang untuk mengakomodasi teknologi baru. Dalam laporan terbarunya yang berjudul “Rewiring Resilience: AI for Climate-Adaptive Power Grids in Asia-Pacific”, Yang menyoroti perlunya peningkatan fleksibilitas jaringan. “Hal utama adalah membuat sistem yang ada menjadi lebih fleksibel dan mampu mengelola variabilitas yang diperkenalkan oleh energi terbarukan,” ujarnya.
Keterbatasan infrastruktur ini menjadi semakin kritis seiring dengan pesatnya adopsi AI yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan besar. Pusat data AI, misalnya, mengonsumsi energi jauh lebih tinggi dibandingkan komputasi konvensional. Tanpa jaringan yang andal dan terintegrasi, negara-negara ASEAN berisiko mengalami kesenjangan pasokan yang dapat menghambat transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi.
Para pengamat menilai bahwa desain awal jaringan ASEAN terlalu kaku dan tidak mengantisipasi lonjakan permintaan yang tidak merata. Integrasi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, yang sifatnya intermiten, memerlukan sistem manajemen beban yang cerdas. Teknologi AI justru dapat menjadi solusi untuk mengoptimalkan distribusi listrik, namun hal itu membutuhkan investasi besar dalam sensor, perangkat lunak, dan protokol komunikasi antarnegara.
Ke depan, ASEAN perlu mempercepat pembangunan sambungan yang tersisa sambil merancang ulang arsitektur jaringan agar lebih adaptif. Kerja sama regional dalam pendanaan, transfer teknologi, dan harmonisasi regulasi menjadi kunci. Jika tidak, target elektrifikasi 2045 yang ambisius hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi yang memadai.



