Jogja Financial Festival 2026: Panggung Strategis Literasi Keuangan dan Transformasi Perbankan Nasional
Baca dalam 60 detik
- Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta menghadirkan tokoh nasional dan pimpinan perbankan untuk mendorong literasi keuangan serta inklusi digital.
- Direktur utama BRI, BTN, BSI, BNI, dan Bank Mandiri memaparkan strategi transformasi digital dan pembiayaan berkelanjutan di tengah tingginya transaksi tunai.
- Pemerintah dan BUMN optimistis pertumbuhan ekonomi berkelanjutan didukung APBN ekspansif dan target laba BUMN mencapai Rp450 triliun pada 2029.

Jogja Financial Festival (JFF) 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 23β24 Mei 2026 sukses menjadi ajang diskusi strategis antara regulator, pelaku industri keuangan, dan akademisi. Acara dua hari ini menyoroti pentingnya literasi keuangan, transformasi perbankan, serta peran BUMN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menekankan bahwa sektor keuangan membutuhkan disiplin, tata kelola yang baik, dan pemberdayaan sumber daya manusia untuk mencapai profitabilitas. Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengapresiasi gelaran ini sebagai katalis ekonomi kerumunan yang mampu menggerakkan roda perekonomian daerah.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengingatkan generasi muda untuk memperkuat kualitas diri sebagai modal utama kesuksesan di era digital. Ia mencontohkan perjalanan Chairul Tanjung yang berhasil berkat kapasitas pribadi, bukan latar belakang keluarga.
Para pimpinan bank pelat merah turut memaparkan strategi masing-masing. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyoroti evolusi perbankan melalui digitalisasi, dengan Brimo sebagai ujung tombak. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengandalkan KPR subsidi dan digitalisasi untuk menjangkau masyarakat unbanked. Sementara itu, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menekankan pembiayaan UMKM berkelanjutan berbasis syariah.
Direktur Treasury & International Banking BNI Abu Santosa Sudradjat menjelaskan bahwa jaringan global BNI yang terdiri dari delapan financial center dan 10 cabang internasional menjadi jembatan bagi UMKM Indonesia menembus pasar global. Di sisi lain, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengungkapkan bahwa 39% transaksi masyarakat masih bersifat tunai, menandakan potensi besar untuk akselerasi digital.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto membela industri pertambangan yang kerap dianggap destruktif. Ia menegaskan bahwa nikel yang diproduksi Vale bersifat berkelanjutan dan menjadi kunci transisi energi, terutama untuk baterai kendaraan listrik dan infrastruktur energi terbarukan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto menjelaskan bahwa defisit APBN dirancang secara ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik optimistis pasar modal Indonesia tetap cerah seiring lonjakan jumlah investor. Direktur Utama SMI Reynaldi Hermansjah melaporkan bahwa hingga akhir 2025, SMI telah membiayai 492 proyek infrastruktur dengan total Rp274,96 triliun dan NPL yang sangat rendah.
Kepala Badan Pengaturan BUMN/COO Danantara Dony Oskaria mengungkapkan bahwa laba BUMN pada 2025 mencapai Rp335 triliun dengan kontribusi pajak Rp215 triliun. Target laba tahun ini Rp360 triliun, dan dalam tiga tahun ke depan diharapkan mencapai Rp450 triliun. Kontribusi BUMN disebut mencapai sepertiga dari APBN melalui dividen dan pajak.
JFF 2026 membuktikan bahwa sinergi antara regulator, perbankan, BUMN, dan pelaku industri mampu menciptakan ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan. Ke depan, tantangan utama adalah mempercepat digitalisasi, memperluas akses pembiayaan, serta menjaga momentum pertumbuhan investasi di tengah dinamika global.



