Rupiah Kembali Terperosok ke Rp17.700 per Dolar AS, Tekanan Eksternal Kian Terasa
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,11% lalu terus merosot hingga menembus level psikologis Rp17.700 pada Jumat pagi (22/5).
- Pelemahan dipicu oleh kuatnya indeks dolar AS dan ketidakpastian geopolitik, sementara pasar menanti data Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026.
- Jika tekanan eksternal berlanjut, ruang pemulihan rupiah diperkirakan terbatas dalam jangka pendek.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Berdasarkan data Refinitif pukul 09.15 WIB, mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp17.700 per dolar AS, melemah 0,34% dari posisi sebelumnya. Pergerakan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi sejak Kamis lalu, saat rupiah ditutup terkoreksi 0,23% di Rp17.640.
Pelemahan pagi ini semakin dalam setelah rupiah dibuka di Rp17.660 atau turun 0,11%. Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan, terutama penguatan indeks dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi enam minggu terakhir. Ketidakpastian terkait negosiasi damai AS-Iran, khususnya soal stok uranium dan kendali Selat Hormuz, membuat investor cenderung memilih aset aman berbasis dolar.
Pasar kini menanti apakah NPI kuartal I-2026 mampu mempertahankan surplus di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Harga minyak yang masih tinggi serta konflik Timur Tengah menjadi beban tambahan bagi ketahanan eksternal Indonesia. Jika data menunjukkan pelemahan, ekspektasi terhadap stabilitas rupiah bisa semakin tertekan.
Dari sisi eksternal, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut adanya sinyal positif dalam pembicaraan dengan Iran, namun belum ada kesepakatan konkret. Selama dolar AS masih kokoh, mata uang negara berkembang seperti rupiah akan sulit menguat signifikan. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan data domestik dan geopolitik global untuk mengantisipasi pergerakan selanjutnya.
Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga surplus neraca pembayaran serta meredanya ketegangan geopolitik. Tanpa katalis positif yang kuat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat.



